"Para siswa lebih ditekankan pada kemampuan menghafal untuk tujuan kesiapan menghadapi ujian dan bukan pada kemampuan berkreasi," kata Prof Aron yang juga guru besar linguistik di Fakultas Sastra Unud itu, di Denpasar, Rabu.
Akibatnya, penguasaan bahasa pemersatu ini, belum maksimal dikuasai oleh para generasi muda di Tanah Air.
"Cara penyampaian di jenjang pendidikan pun cenderung membosankan karena lebih condong untuk kepentingan mengejar target pencapaian nilai semata," ujarnya.
Akan menjadi lebih baik, kata dia, jika dalam pelajaran diberi waktu dan ruang para peserta didik untuk berdiskusi, berdebat, dan kreasi dalam menulis serta membaca.(**)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.