Jakarta (ANTARA) - Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno menilai tren travel atau perjalanan wisata masyarakat Indonesia belakangan ini lebih memilih liburan dalam kelompok kecil, seperti bersama keluarga lintas generasi atau multi-generation trip.

Menurut dia, tren masyarakat yang berlibur lebih banyak dengan kelompok kecil dengan teman-teman dekatnya atau dengan keluarganya.

Sementara itu, perjalanan dengan bus dalam jumlah besar saat ini lebih banyak dilakukan untuk kegiatan study tour atau perusahaan yang mengadakan perjalanan bagi karyawan dan distributor.

“Masyarakat sekarang lebih suka untuk bepergian dalam kelompok kecil, bukan lagi dalam jumlah besar seperti zaman dulu yang berbus-bus. Dan banyak sekali yang multi-generation traveler, jadi orang tua, kakek-nenek, anaknya, cucunya, karena mereka lebih menghargai waktu bersama,” kata Pauline, saat ditemui usai acara ANTX 2026, di Jakarta, Senin.

Pauline mengatakan tren perjalanan bersama multigenerasi sudah terjadi semenjak COVID dan mereka butuh funding atau donaturnya didukung oleh orang tua yang sudah mapan secara finansial dalam membiayai trip atau perjalanannya.

Hal ini banyak sekali sekarang, lanjut dia, bukan hanya di Indonesia, namun juga terjadi di seluruh dunia. Sehingga tren perjalanan sekarang cenderung lebih santai karena harus menyesuaikan ritme masing-masing generasi.

“Yang tua udah enggak bisa jalan sampai malam, anak-anak juga mungkin bangunnya agak siang santai. Karena buat mereka berlibur bukan lagi seperti dulu yang bangun jam 6, jam 7 makan pagi, jam 8 sudah keluar hotel, buru-buru balik hotel lagi setelah makan malam. Udah enggak seperti itu, tapi lebih ke experiencing (pengalaman) sendiri,” tutur dia.

Pauline juga mengatakan wisatawan saat ini cenderung memilih destinasi dengan akses transportasi yang murah, nyaman, dan mudah dijangkau menggunakan transportasi publik.

Perkembangan teknologi dan kemudahan transportasi nyaman dan sudah seamless membuat wisatawan semakin mandiri saat bepergian, sehingga penggunaan jasa agen perjalanan di sejumlah destinasi mulai berkurang.

Ia mencontohkan saat berlibur ke negara terdekat seperti Singapura maupun Malaysia, wisatawan Indonesia mungkin sebagian sudah terbantu dengan transportasi publik, aplikasi transportasi online, hingga navigasi digital seperti Google Maps.

Meski demikian, Pauline menilai agen perjalanan masih memiliki peluang untuk menjual paket wisata ke destinasi yang memiliki kendala bahasa dan sistem pembayaran yang berbeda.

“Jadi kami menjual paket-paket wisata di mana mengalami kesulitan bahasa, masih dibutuhkan jasa travel agent untuk menjalankan suatu perjalanan paket wisata. Contoh ke China, problem bahasa mau bayar enggak ngerti caranya. Nah itu pasar besar buat travel agent Indonesia,” kata dia.



Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026