Denpasar (Antara Bali) - Psikolog dari Universitas Udayana Supriyadi mengharapkan, pendidikan budi pekerti perlu kembali masuk dalam kurikulum pendidikan yang diajarkan dari jenjang pendidikan SD hingga SMA.
"Pendidikan agama yang diajarkan selama ini di sekolah dapat diganti dengan pendidikan budi pekerti. Pendalaman mengenai ajaran agama itu sudah ada di keluarga masing-masing," ujar Ketua Majelis Himpunan Psikologi Bali ini di Denpasar, Sabtu.
Ia menyayangkan harapan bahwa pendidikan agama akan menelurkan budi pekerti, namun nyatanya konflik-konflik tentang beda agama sangat banyak terjadi.
"Artinya, pendidikan agama yang diterapkan di sekolah selama ini tidak menekankan pada perilaku budi pekerti tetapi hanya pemahaman pada agamanya sendiri," ucapnya.
Di sisi lain, faktanya pemilihan agama si anak juga sangat ditentukan oleh orang tua.
"Memperdalam ajaran agama di lingkungan keluarga, maksud saya bagi beragama Islam melalui pengajian, bagi umat Kristen pada sekolah Minggu dan bagi umat Hindu melalui pasraman," kata Supriyadi.*
