Made Bayak Mengajak Jaga Bumi Lewat "Plasticology"

Made Bayak Mengajak Jaga Bumi Lewat

Seniman "Plasticology" Made Bayak di depan salah satu lukisan karyanya. (Antara Bali via Tri Vivi Suryani/2017)

Bagi seniman Made Bayak, sampah plastik ternyata memiliki nilai artistik dan ekonomi yang tinggi jika diolah dan dimanfaatkan dengan baik.

"Saya sama sekali tidak anti pada sampah plastik, tetapi ingin mengedukasi. Jika diolah dengan kreativitas, sampah plastik akan memiliki nilai artistik dan ekonomis," kata seniman Made Bayak ketika ditemui di studio seninya.

Studio lukis Made Bayak terletak di wilayah Guwang, Batu Bulan, Gianyar. Sebuah studio yang terlihat temaram dengan beraneka rupa pepohonan yang tertata asri.

Pada studio inilah, lelaki bernama asli Made Muliana ini bereksperimen dengan berbagai macam sampah plastik menjadi karya patung, seni instalasi, atau media melukis.

Perjalanan bersentuhan dengan sampah plastik untuk dijadikan karya seni, telah dijalani Made Bayak sejak masih menjadi mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Pada tahun 2004, saat menjalani mata kuliah Eksperimen Kreatif, pria ini lantas membayangkan tentang periode zaman batu di Indonesia dengan berbagai peninggalan menhir, gerabah, sarkofagus, kapak batu, dan sebagainya.

Made Bayak lantas berpikir untuk berkreasi dengan sampah plastik. Dia punn membayangkan bahwa 500.000 tahun ke depan, generasi yang meneliti peradaban saat ini akan langsung menyimpulkan jika penemuan era sekarang adalah plastik-plastik ini.

Mulai dari pemikiran ini, pria kelahiran Tampaksiring ini lantas terpikir untuk mendayagunakan sampah plastik supaya menjadi produk berguna. Sampai akhirnya, pada tahun 2010, terbesit keinginannya untuk menggantikan peran kanvas untuk melukis dengan sampah plastik yang banyak ditemukan di mana-mana.

Melalui sejumlah eksperimen, Made Bayak akhirnya mampu menciptakan kanvas dengan bahan baku sampah plastik. Dia bahkan tidak canggung memunguti sampah plastik di depan pertokoan atau di tong sampah minimarket, kemudian dia bawa pulang, lalu memprosesnya menjadi media melukis.

Selanjutnya, pada media dari sampah plastik itu, Made Bayak mengalirkan ide tentang kehidupan sosial dan warna budaya Pulau Dewata. Mengenai barong, rangda, penari, keindahan alam, dan beragam tema yang memiliki relevansi dengan Bali.

"Proses membuat sebuah lukisan sekitar 2 minggu. Yang banyak memakan waktu adalah memadukan warna sampah plastik yang akan ditempel untuk dijadikan kanvas melukis," ucapnya.

Ketika sudah terkumpul beberapa lukisan, pada tahun 2011, Made Bayak pun memulai debut berpameran di Sanur sekaligus mengibarkan bendera 'plasticology' sebagai 'brand' dari karya kreatifnya.

Barangkali karena belum ada yang menciptakan karya lukis dengan media sampah plastik sehingga saat itu lukisan Made Bayak akhirnya sukses mencuri perhatian publik.

Karya-karya Made Bayak yang menyilangkan mistisme mitologi Bali, yang ironisnya justru ada persoalan sampah plastik membayangi, serasa menyentakkan banyak pihak bahwa Pulau Dewata bukanlah "surga" wisata semata, mengingat ada persoalan sampah plastik, yang mestinya dicarikan solusi terbaik.

Pesan kuat agar tidak mengabaikan sampah plastik, tetapi dikemas artistik dalam wujud karya, serasa menjadi genre kesenian baru. Gaung aliran plasticology pun akhirnya diterima publik.

Tidak hanya dari sisi karya kreatif, tetapi pesan yang tersirat untuk menjaga bumi dari sampah plastik pun menyadarkan banyak pihak kalau masalah sampah plastik tidak bisa disepelekan lagi.

"Sampah plastik kan mayoritas bermuara ke laut. Padahal, bagi masyarakat Bali, lautan itu disucikan. Pada acara ritual 'melasti' 'kan diadakan di laut. Laut pun menjadi tempat untuk membersihkan diri. Kalau laut dipenuhi sampah plastik, bagaimana bisa menjadi tempat yang disucikan?" tutur Made Bayak dengan nada prihatin.

Atas dasar keprihatinan ini, Made Bayak pun tergerak untuk mengedukasi siswa/siswi SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, untuk berkreasi dengan sampah plastik. Bagaimana mengolah sampah plastik yang tidak berguna dan dibuang begitu saja? Namun, dengan sentuhan kreativitas akhirnya menjadi produk bernilai.

    
Jerman dan Kurikulum

Tak hanya publik dalam negeri yang tertarik dengan karya kreatif ala plasticology. Masyarakat mancanegara pun penasaran dan tertarik dengan karya kreatif Made Bayak sehingga mengundang pria ini untuk berpameran di luar negeri.

"Baru bulan lalu (September), saya berpameran dan mengadakan 'workshop' di Jerman. Tadinya, saya pesimistis kalau pameran dan 'workshop' yang saya adakan akan bisa menarik banyak orang. Ini karena Jerman sudah bisa mengatasi problem sampah plastik sehingga saya agak-agak pesimistis awalnya," katanya.

Justru tidak disangka, sesampai di Jerman ternyata pameran Made Bayak banyak didatangi warga setempat. Bahkan, "workshop" yang diadakan selalu ramai dikunjungi orang-orang.

Sejak pagi hingga sore hari, yakni sejak pukul 10.00 s.d. 17.00 waktu setempat, pria yang mengidolakan seniman I.B. Grebuak, undagi sekaligus pelukis dan pematung dari Tampaksiring itu pun dengan telaten mendemonstrasikan pembuatan karya plasticology pada audiens yang antusias belajar.

Sampai-sampai, lanjut Made Bayak, ada beberapa orang yang sengaja 2 hari berturut-turut datang ke "workshop" karena begitu penasaran ingin menguasai seni melukis menggunakan media sampah plastik.

Besarnya perhatian dan rasa antusias yang tinggi pada seni plasticology, akhirnya menepis kelelahan yang mendera dirinya. Pria ini menjadi bersemangat mendampingi ratusan warga Jerman yang berminat menyerap ilmu plasticology.

"Barangkali atas dasar kesadaran yang tinggi untuk menjaga lingkungan sehingga karya kreatif saya mendapat apreasiasi tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Apalagi, belakangan ini banyak gerakan untuk 'save the earth'. Padahal, ketika saya memulai gerakan plasticology ini pada tahun 2010-an, gerakan untuk menjaga lingkungan dari sampah plastik masih sayup-sayup terdengar," katanya.

Pria yang selalu menyisihkan 30 persen dari setiap penjualan karyanya untuk kegiatan sosial itu pun menyimpan harapan supaya kegiatan plasticology, yakni kesadaran akan bahaya sampah plastik dan selanjutnya mendaur ulang menjadi produk bermanfaat, dapat dijadikan kurikulum di sekolah-sekolah.

Harapan lain yang ingin diwujudkannya ialah lebih banyak lagi bekerja sama dengan sekolah atau komunitas di daerah-daerah lain di Indonesia, supaya pesan tentang pemanfaatan sampah plastik ini dapat lebih meluas.

"Saya sadar, ini bukan langkah yang instan. Kalau saya menggaungkan gerakan mengolah sampah plastik sekarang, bisa jadi 15 tahun ke depan baru pesan akan sampai dan warga mulai tergerak untuk mengatasi problema ini," ujarnya. (WDY)

---------
*) Penulis buku dan artikel lepas yang tinggal di Bali.