Denpasar (Antara Bali) - Inflasi Kota Denpasar, Bali, sebesar 0,69 persen pada bulan Desember 2016, jauh lebih tinggi dari inflasi pada tingkat nasional pada bulan yang hanya tercatat 0,42 persen pada bulan yang sama.

"Tingkat inflasi kumulatif Januari-Desember 2016 dan inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 2,94 persen dan indeks harga konsumen (IHK) 123,10," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Adi Nugroho, dalam keterangan pers di Denpasar, Selasa.

Menurut dia, inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada lima kelompok pengeluaran yakni kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi 2,38 persen.

Selanjutnya, kelompok bahan makanan sebesar 0,86 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,40 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,35 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan gas sebesar 0,12 persen.

Didampingi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Causa Iman Karana, serta Kadis Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali Ni Wayan Kusumawathi, ia menambahkan di Kota Denpasar hanya kelompok sandang yang mengalami deflasi 0,41 persen.

Sementara kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga tidak mengalami perubahan indeks atau tetap, ujar Adi Nugroho.

Komoditas yang mengalami peningkatan harga antara lain tarif angkutan udara, bensin non-subsidi, tarif pulsa ponsel, jeruk, cabai rawit, bawang putih, serta sawi hijau.

Untuk komoditas yang mengalami penurunan harga meliputi cabai merah, buah apel, daging ayam ras, emas perhiasan dan baju kaos berkerah.

Adi Nugroho menambahkan, inflasi bulan Desember 2016 didominasi oleh inflasi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan yang mencapai 0,42 persen.

Menyusul kelompok bahan makanan 0,17 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,06 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,03 persen, serta kelompok kesehatan 0,02 persen.

Kelompok pengeluaran yang menahan laju inflasi adalah kelompok sandang dengan sumbangan atau andil deflasi -0,02 persen, sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga tidak mengalami perubahan indeks atau tetap.

Adi Nugroho menjelaskan dari 82 kota di Indonesia yang menjadi sasaran evaluasi tercatat 78 kota mengalami inflasi dan empat kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe 2,25 persen dan inflasi terendah di Tembilahan dan Padang Sidimpuan masing-masing 0,02 persen.

"Untuk deflasi tertinggi terjadi di Manado 1,52 persen dan terendah di Tegal 0,09 persen. Jika diurutkan dari inflasi tertinggi, maka Denpasar menempati urutan ke 24 dari 78 kota yang mengalami inflasi," ujar Adi Nugroho. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026