Catatan Redaksi

Prof Gede Sri Darma, D.B.A, prototype generasi muda pejuang yang jujur, intelektual dan option kepada pembangunan masyarakat  Bali. Tiga sifat dasar paling dominan dari  Sri Darma tersebut menyatu dalam karakter dirinya, sebagai kekuatan progresif  menyiapkan anak anak Bali  dengan visi 'Move to Global Digital' dengan mendobrak tradisi akademis yang tidak produktif. Sri Darma adalah  rector termuda di Indonesia yang pikiran pikiran-pikirannya selalu mencerahkan anak bangsa , sehingga layak menjadi pemimpin Bali masa depan.



Keterpurukan Sri Darma di semester III, akhirnya membuat sang ayah memikirkan cara lain, bagaimana memberikan Sri Darma uang, namun bukan secara langsung melainkan melalui proses antara. Ibaratnya, dia tidak ingin terus menerus memberinya ikan secara cuma-cuma, melainkan sebuah pancing untuk menangkap sendiri ikan yang diinginkan. Sang ayah melakukan teknik tersebut dengan cara memberikannya tawaran mengajar di Undiknas. Jelas bukan sebagai dosen, melainkan pelatihan bagi para dosen dan mahasiswa Undiknas untuk pengaplikasian komputer. Tawaran ini ditolaknya, bahkan sempat membuat Sri Darma marah, karena malu kenapa anak pemilik kampus harus ikut mengajar. Namun setelah sang ayah membeberkan maksud dan tujuannya, diapun langsung menerimanya.

"Tujuan ayah menyuruh saya mengajar bukan semata-mata untuk mencari uang, melainkan belajar bagaimana caranya berbicara dengan penuh percaya diri di depan umum. Saat diajukan pertanyaan, maka dapat secara langsung dijawab. Jadi otomatis terlatih untuk menjawab secara cepat. Dan terpenting ilmu komputer yang saya kuasai tidak akan ada manfaatnya kalau tidak ditransfer pada orang lain. Seperti itulah didikan ayah pada saya."

Mulailah Sri Darma memberikan pelatihan komputer di Undiknas sepulang kuliah. Banyak hal baru tentang perkembangan dunia komputer yang diajarkannya. Mulai dari program Lotus hingga WordStar. Tentunya ada imbalan setimpal yang diperolehnya dari segala ilmu yang telah dibagikan pada peserta pelatihan. Dari kegiatan pelatihan itu, Sri Darma mendapatkan penghasilan yang langsung masuk ke kantong pribadinya. Per semester atau setiap enam bulan sekali, dia akan mendapat bayaran sebesar 720 ribu rupiah. Barangkali bayaran yang terhitung cukup besar ini yang membuatnya betah memberikan pelatihan di Undiknas.

Selain dengan memberikan kesempatan mengajar komputer, sang ayah juga punya cara lain untuk menambah penghasilan Sri Darma. Hal itu juga dilakukannya dengan menggunakan proses antara. Diawali dari permintaan supaya Sri Darma mau menempati serta mengurus salah satu rumahnya di Jalan Gatot Subroto, Denpasar. Tanpa banyak berpikir, Sri Darma memenuhi permintaan ayahnya. Jadilah dia tinggal terpisah dengan ayah dan ibunya. Di rumah itu, Sri Darma tidak tinggal sendiri, melainkan bersama dengan seorang pembantu rumah tangga, yang menangani seluruh pekerjaan domestik.

Tinggal sendiri tanpa ditemani seorang pembantu memang tidak mungkin, sebab rumah tersebut terbilang cukup besar dan luas. Ada delapan buah kamar, namun hanya satu kamar yang terpakai. Insting bisnis Sri Darma pun muncul. Dia berniat untuk menyewakan tujuh kamar yang tersisa. Niat itu diamini oleh sang ayah, sebab memang itulah tujuan terselubung di balik meminta kesediaan Sri Darma menempati rumah tersebut. Umpannya itu berhasil, benar-benar kreatif mengolah rumah itu, untuk menghasilkan uang.

"Orang tua benar-benar mengajari saya supaya punya jiwa kreativitas. Barangkali saya "dites" kalau diberi rumah, akan saya apakan itu rumah. Apakah hanya akan saya tempati saja? Kalau betul sampai seperti itu, berarti saya bodoh. Tapi kenyataannya tidak. Saya melihat peluang untuk mendatangkan uang dari rumah yang diberikan oleh orang tua."

Rupanya ketika itu Sri Darma tidak sadar, bahwa sang ayah telah memberikan jalan keluar yang terbaik baginya untuk segera bangkit dari kegagalan akademik di semester III. Sang ayah tahu, pangkal dari kegagalan itu sangat manusiawi sifatnya. Sebagai seorang mahasiswa, Sri Darma tidak boleh hanya dipaksakan untuk belajar dan belajar. Dia memerlukan hiburan, termasuk pula berpacaran seperti anak-anak muda pada umumnya. Semua gaya hidup itu membutuhkan dana, sementara uang bulanan yang diberikan kepadanya tidak mencukupi.

Jika semua biaya gaya hidup Sri Darma diberikan begitu saja, pikir sang ayah, itu namanya tidak mendidik, maka dipakai jalan proses antara dengan cara memberikan kesempatan kepadanya untuk mengajar komputer di Undiknas dan tanggung jawab mengelola sebuah rumah di Jalan Gatot Subroto. Secara tidak langsung, cara-cara edukatif yang ditempuh oleh sang ayah telah membuat Sri Darma bangkit dari kegagalannya. Sejak semester IV dia aktif berorganisasi, membentuk kelompok belajar, dan mengikuti perlombaan pembuatan robot. Keberhasilan seorang temannya mencipta antena televisi anti "semut" di layar kaca, menyadarkan Sri Darma untuk belajar secara mandiri. Setiap semester dia datang ke Malang, menengok adiknya sambil membeli buku, maka kesuksesan dalam perkuliahan kembali diraihnya.

Dari Teknik Elektro ke Manajemen

Sudah disebutkan dalam bab sebelumnya, uang bulanan yang diterima Sri Darma dari ayahnya tidak mencukupi untuk memenuhi biaya gaya hidup selaku mahasiswa. Sang ayah mengetahui hal itu, namun tidak begitu saja mau memberikan uang kontan. Melainkan melalui proses antara dengan cara memberikan kesempatan kepada Sri Darma untuk mengajar komputer di Undiknas dan sebentuk tanggung jawab mengelola sebuah rumah di Jalan Gatot Subroto. Tanpa disadari pula oleh Sri Darma, bahwa sebenarnya sang ayah sedang melatih feeling bisnisnya, apakah dia akan mampu menangkap peluang yang tersedia atau tidak.

Ternyata mampu. Jiwa bisnis Sri Darma jadi benar-benar terasah, sekalipun belum pernah mengenyam pendidikan formal bidang ekonomi, lebih-lebih bisnis dan manajemen. Dia lebih mengandalkan feeling dalam kalkulasi bisnis, terutama ketika akan mengambil keputusan akan menyewakan tujuh kamar yang tersisa di rumahnya itu. Dalam benak Sri Darma, kunci keberhasilan memasarkan tujuh kamar yang tersisa adalah bagaimana memberikan pelayanan terbaik kepada para penyewa. Caranya adalah dengan meniru konsep hotel, sekalipun bukan hotel berbintang lima.

Layaknya sebuah hotel, ada tempat tidur, almari, kamar mandi dalam dengan kloset duduk, shower air dingin dan panas, dan pesawat televisi. Setiap pagi disediakan sarapan gratis. Namun lebih dari sebuah hotel, adapula pelayanan laundry yang juga gratis. Harga sewa per kamarnya 725 ribu rupiah, lebih tinggi dari harga rata-rata saat itu berkisar diangka 400 ribu rupiah, per bulan. Sudah bisa dibayangkan berapa banyak lembar rupiah yang dia terima dari bisnis kos-kosan ini. Jelasnya sangat cukup untuk membiayai keperluan; biaya kuliah, membeli pakaian, dan anggaran untuk berpacaran.

Jadi, setelah semester IV Sri Darma sudah tidak lagi mendapat uang bulanan dari ayahnya. Dia juga tidak dimintai laporan pertanggungjawaban atas semua penghasilan yang diperoleh dari penyewaan kamar. Sang ayah sudah menganggapnya mandiri dan mampu mengatur keuangan sendiri. Jadi tak perlu lagi diawasi seberapa banyak uang yang didapat dan digunakan untuk apa saja uang-uangnya itu. Hal-hal semacam ini sudah tak berlaku lagi pada diri Sri Darma.

"Orang tua memahami dan menyadari kalau saya sudah dewasa. Dan sudah tidak perlu lagi diatur seperti anak kecil," ujar Sri Darma.

Kedewasaan ini pula yang membawa Sri Darma tumbuh jadi sosok yang semakin bijak menggunakan setiap waktu yang dimilikinya. Dia jadi terlatih mengatur waktu, antara akan mengajar komputer atau mengerjakan tugas-tugas kampusnya. Waktu yang tersita mencari uang, tak lantas mengganggu kualitas dan kuantitas belajarnya di kampus. Justru keseriusannya mengikuti kuliah dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen menjadi semakin meningkat di setiap semesternya. Hingga tiba saatnya Sri Darma harus menyusun tugas akhir sebagai syarat kelulusannya.

Perlu perjuangan luar biasa untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Dia harus pulang-pergi Denpasar-Surabaya hanya untuk menemui pembimbing tugas akhirnya yang seorang dosen di ITS. Saat itu antara Teknik Elektro Universitas Udayana dengan ITS Surabaya telah terjalin kerja sama. Entah itu memanfaatkan tenaga dosen ITS sebagai pembimbing ataupun pengajar di Universitas Udayana.

Adanya bimbingan khusus dari para dosen ITS, khususnya Profesor Ontoseno membawa angin segar bagi Sri Darma. Dia mampu menyelesaikan tugas akhirnya dengan sangat baik. Hingga akhirnya dinyatakan lulus dari Teknik Elektro Universitas Udayana di tahun 1993 dengan menyabet gelar Sarjana Teknik (ST). Padahal jauh sebelum lulus, dia sudah berharap akan menyandang gelar Insinyur (Ir.) selepas dari bangku kuliah. Namun harapan itu tak akan pernah terwujud semenjak munculnya peraturan pemerintah pada bulan Februari 1993 yang tidak memberlakukan lagi gelar Insinyur.(*)


Editor : I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026