Denpasar (Antara) - Kampanye buah lokal terus dilakukan oleh pemerintah dan industri untuk mendongkrak popularitas buah tersebut, termasuk dalam sektor pariwisata.
     

"Pejabat dulu semestinya yang memberi contoh agar tidak mengkonsumsi buah impor. Kita kampanye buah lokal tapi kita sendiri yang mengkonsumsi buah impor," kata mantan Dirut Bali Tourism Development Corporation (BTDC), Made Mandra, pada Focus Group Discussion (FGD) Peningkatan Daya Saing Pertanian Bali, di Nusa Dua, Bali.


Ia mengatakan kampanye bukan hanya sebatas wacana, namun bagaimana pemerintah dan masyarakat sepakat dengan apa yang diharapkan.


"Industri harus peduli dengan produk pertanian lokal, namun masih sebagian kecil sektor pariwisata yang menggunakan buah lokal," ujarnya.

Sementara Kepala Pusat Penelitian Subak Universitas Udayana Prof Dr Wayan Windia menyatakan agar industri pariwisata tidak hanya mengikuti apa yang dimau oleh wisatawan.


"Kita berikan mereka apa yang kita punya, bukan apa yang kira-kira disukai tamu. Saya yakin wisatawan yang datang ke Bali mau menikmati buah lokal ketika hanya buah lokal yang ada," ujarnya.


Windia menilai selama ini pariwisata dan sektor pertanian bagaikan langit dan bumi. Mereka tak mungkin disatukan akibat perbedaannya begitu besar. Pertanian kita sangat erat dengan budaya yang orientasinya sosial kultur. Kehidupan petani dan pelaku pariwisata sangat jauh berbeda.

"Kalau petani penghasilannya dibawah pengemis, sedangkan pelaku pariwisata di atas pengemis," kata Windia.

 Petani sukses asal Banyuwangi, Wayan Supadma yang juga hadir sebagai narasumber kurang sependapat dengan stigma jika jadi petani harus menderita dan melarat.


"Hidup jadi petani tak harus hidup dalam penderitaan. Jadi petani bisa kaya dan sukses. Petani kita pun bisa menghasilkan produk yang berkualiyas dan sesuai dengan keinginan pasar," ujarnya.
 

Dalam kesempatan tersebut, ia pun sempat mempresentasikan peluang dan potensi sektor pertanian yang sangat besar. Bahkan mengajak para petani di Bali tak mengeluh dan mulai berbuat hal yang nyata.


"Saya ingin menghidupkan lagi jeruk bondalem yang dulu sangat terkenal dan kini hilang. Saya yakin dengan sentuhan teknologi pertanian yang tepat maka jeruk bondalem akan bisa berjaya,” ujar pria pemilik ratusan hektar lahan pertanian ini.


Pemilik Nirmala Group Made Sujana menyatakan selama ini jaringan pasar moderen yang dimilikinya berharap buah lokal lebih banyak berperan. Selama ini penjualan buah lokal prosentasenya hampir berimbang.


Ia mengakui beberapa hal yang memang menjadi kendala buah lokal saat masuk pasar moderen. Buah lokal masih terkendala kualitas dan stok.


Direktur Operasional ITDC, Anak Agung Ngurah Wirawan, saat membuka acara FGD tersebut menyatakan pihaknya berharap ada hal nyata yang dilakukan oleh industri dalam eksistensi buah lokal.

Ia percaya buah lokal akan menarik mengingat buah tropis lokal hanya ditemukan di Bali dan tidak ditemukan dinegara asal wisatawan.

"Kita tak bicara soal lengkeng atau pir atau apel. Saya yakin negara Cina atau Australia memiliki buah tersebut dengan kwalitas yang lebih bagus. Namun kita memiliki buah salak, manggis dan buah tropis lainnya yang bisa menjadi daya tarik," ucapnya.

Ia berharap ITDC bisa dijadikan etalase promosi untuk buah lokal. Bahkan pihaknya pun mempersilakan pemerintah maupun industri buah melakukan pameran di kawasan ITDC.

"Kita berharap ada pekan pameran buah di ITDC. Atau kami sediakan tempat khusus pameran saat Nusa Dua Fiesta yang kami gelar setiap tahun. Saya berharap buah lokal bisa lebih berperan, tentu saja dengan kualitas yang bagus," katanya.(I020)

Pewarta: Pewarta : I Komang Suparta

Editor : I Komang Suparta


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016