Negara (Antara Bali) - PDAM Tirta Amertha Jati Jembrana, kesulitan biaya operasional, karena terkendala kenaikan tarif yang belum disetujui Pemkab setempat.
"Dalam hitung-hitungan bisnis, tarif yang sekarang sudah tidak memadai untuk kebutuhan operasional kami, karena terjadi kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik," kata Direktur PDAM Tirta Amertha Jati Jembrana, Ida Bagus Kerta Negara, di Negara, Kamis.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya membayar tagihan listrik sebesar Rp383,5 juta setiap bulan, sementara pendapatan perusahaan dari tagihan kepada pelanggan belum tentu mencapai jumlah sebesar itu.
"Pendapatan kami hanya dari berjualan air kepada pelanggan. Tarif PDAM Jembrana, terakhir kali naik tahun 2010, sementara dalam jangka waktu sampai saat ini terjadi kenaikan biaya operasional," ujarnya.
Akibat kondisi keuangan yang minim tersebut, ia mengaku, sulit melakukan pengembangan jaringan maupun peningkatan kualitas pelayanan, khususnya di wilayah yang tertimpa krisis air bersih seperti di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo.
Menurutnya, untuk mengatasi krisis air di wilayah tersebut ada beberapa cara yang bisa dilakukan, namun seluruhnya membutuhkan tambahan biaya.(GBI)
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014
"Dalam hitung-hitungan bisnis, tarif yang sekarang sudah tidak memadai untuk kebutuhan operasional kami, karena terjadi kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik," kata Direktur PDAM Tirta Amertha Jati Jembrana, Ida Bagus Kerta Negara, di Negara, Kamis.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya membayar tagihan listrik sebesar Rp383,5 juta setiap bulan, sementara pendapatan perusahaan dari tagihan kepada pelanggan belum tentu mencapai jumlah sebesar itu.
"Pendapatan kami hanya dari berjualan air kepada pelanggan. Tarif PDAM Jembrana, terakhir kali naik tahun 2010, sementara dalam jangka waktu sampai saat ini terjadi kenaikan biaya operasional," ujarnya.
Akibat kondisi keuangan yang minim tersebut, ia mengaku, sulit melakukan pengembangan jaringan maupun peningkatan kualitas pelayanan, khususnya di wilayah yang tertimpa krisis air bersih seperti di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo.
Menurutnya, untuk mengatasi krisis air di wilayah tersebut ada beberapa cara yang bisa dilakukan, namun seluruhnya membutuhkan tambahan biaya.(GBI)
Editor : Gembong Ismadi
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014