Denpasar (Antara Bali) - Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ketut Suastika mengajak masyarakat untuk bersama-sama menyelamatkan lontar kuno karena sarat dengan nilai-nilai kehidupan dan multidisiplin ilmu.

"Berbagai warisan budaya, termasuk lontar menjadi senjata ampuh bagi kita dalam menghadapi persaingan global sebagai dampak modernisasi. Perlu kesadaran kita untuk mempelajarinya sebagai salah satu sumber pedoman," katanya saat menjadi pembicara pada Seminar Pemuliaan Lontar Bali di Taman Budaya, Denpasar, Sabtu.

Menurut dia, masyarakat Bali pada khususnya harus menghadapi perdagangan bebas dan era global yang dapat memengaruhi berbagai sendi kehidupan.

"Namun, tentu kita tidak ingin tercerabut dari akar kebudayaan yang kita miliki. Meskipun dihadapkan pada era global, gengsi dan identitas kita tidak boleh terganggu dan kebudayaan menjadi senjata untuk meneruskan kehidupan," ucapnya.

Suastika berpendapat dengan memetik ilmu, filsafat, dan pedoman hidup yang terdapat dalam lontar sekaligus untuk menghadapi tantangan munculnya degradasi etika dan sopan santun dari masyarakat.

"Bukankah saat ini sudah mulai bermunculan pandangan terhadap orang atau kelompok tertentu yang terlalu tendensius, negatif, dan tidak melihat secara utuh. Oleh karenanya, kearifan lokal harus dijaga dengan tetap memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat," ucapnya.

Pemerintah Provinsi Bali, ucap dia, sangat peduli pada upaya penyelamatan lontar dan naskah kuno diantaranya melalui penerjemahan, alih bahasa dan penyelamatan lontar yang ada di masyarakat.

"Hanya saja, persoalan yang sering muncul dalam penyelamatan lontar di masyarakat karena lontar terlalu disakralkan sehingga menyulitkan kami. Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk menyadarkan masyarakat," kataya sembari menyebut koleksi lontar di Disbud Bali mencapai sekitar 3.000 buah.

Sementara itu Bemby Bantara Narendra selaku ketua panitia seminar menganggap lontar merupakan titipan leluhur yang mengandung berbagai aspek kehidupan manusia.

"Kami turut berupaya menyelamatkan lontar dan salah satunya melalui seminar ini berbekal semangat, niat dan kecintaan kami. Mudah-mudahan ke depan makin banyak yang bisa bergabung," katanya.

Seminar yang dilaksanakan itu, ucap dia, merupakan bagian dari agenda Pameran Lontar Usada Bali kedua yang dilaksanakan serangkaian dengan Pesta Kesenian Bali ke-35 dari 15 Juni-13 Juli 2013.

"Kami awalnya mulai dari lontar usada (pengobatan) karena melihat kecenderungan mulai maraknya pengobatan alternatif dengan menggunakan obat-obatan alami atau herbal dari China, India dan sebagainya. Padahal pengobatan Bali sendiri sebenarnya tidak kalah dan rahasia pengobatan tersebut tertulis banyak dalam lontar," ujarnya.

Ke depan, Bemby bersama-sama teman di komunitas pencinta lontar berencana akan membuka kelas-kelas yang kontinyu untuk membedah lontar, menulis aksara Bali dan mempertajam bahasa Bali. "Lebih dari separuh anggota kami bukanlah dari jurusan sastra, tetapi kami cinta kepada warisan budaya leluhur ini dan ingin turut memuliakan lontar tak hanya lontar usada," ujarnya.

Seminar itu juga menghadirkan tiga pembicara lainnya yakni Budayawan Bali I Wayan Geriya, peneliti budaya Bali dan terlibat dalam digitalisasi lontar Ron Jenkins PhD, dan akademisi dari Program Studi Sastra Kawi Unud Prof Dr I Nyoman Suarka. (LHS)

Pewarta: Oleh Ni Luh Rhismawati

Editor : Ni Luh Rhismawati


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2013