Pemerintah Provinsi Bali untuk tahun ini memberikan bantuan dana terkait pelaksanaan Pawai Pesta Kesenian Bali 2020 kepada semua kabupaten/kota di Pulau Dewata dan masing-masing mendapatkan dana Rp225 juta, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas garapan yang ditampilkan.

"Dari hasil evaluasi kami, peserta pawai PKB selama ini cenderung asal ikut saja. Alasan mereka mengapa memberikan tampilan yang kurang bagus karena tidak ada atau minim biaya," kata Rektor ISI Denpasar yang juga Koordinator Tim Kurator PKB 2020 Prof Dr I Gede Arya Sugiartha, SSKar, MHum, saat memimpin rapat pemantapan materi pawai, parade, dan lomba PKB 2020, di Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Denpasar, Selasa.

Namun, ujar Prof Arya, untuk memperoleh bantuan dana pawai dalam PKB ke-42 ini, sebelumnya harus mengikuti penilaian proposal atas penciptaan karya seni untuk tiga kategori garapan yang dilombakan, yakni Kategori Garapan Lambang Daerah (identitas daerah), Kategori Koreografi Kolaborasi Bertemakan Atma Kerthi, dan Kategori Koreografi Tematik (hasil eksplorasi budaya khas kabupaten/kota).

Jadi, lanjut guru besar seni karawitan itu, yang memiliki konsep garapan terbaik di tiap kabupaten/kota yang akan mendapatkan dana bantuan pawai dari Pemerintah Provinsi Bali. Untuk Kategori Garapan Lambang Daerah akan mendapatkan hadiah Rp50 juta, Koreografi Kolaborasi Bertemakan Atma Kerthi (Rp100 juta) dan Kategori Koreografi Tematik masing-masing diberikan uang Rp75 juta.

"Akan ada tim dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang akan menilai sejumlah proposal garapan di setiap kabupaten/kota, untuk ditentukan yang mana yang terbaik dan berhak memperoleh uang untuk garapan Pawai Pesta Kesenian Bali," ucapnya didampingi Kepala Bidang Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Disbud Bali Ni Wayan Sulastriani.

Baca juga: Pemprov Bali lombakan materi seni pawai PKB 2020

Pihaknya berharap dengan diberikannya dana dari Pemerintah Provinsi Bali senilai lebih dari Rp2 miliar itu, maka sajian yang ditampilkan dalam Pawai PKB atau yang tahun ini dinamakan Peed Agung bisa lebih mantap.

"Kriteria pawai harus benar-benar ditepati oleh para penggarap karena di sana banyak mengandung unsur-unsur kreativitas dan penciptaan," ujar Prof Arya pada acara yang dihadiri perwakilan dinas kebudayaan dari sembilan kabupaten/kota di Bali itu.

Dalam Pawai PKB ke-42 yang akan dilaksanakan pada 13 Juni 2020 dan akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo itu juga akan ditampilkan garapan baru berupa Legong Sad Kertih hasil rekonstruksi maestro tari Ni Ketut Arini.

Legong Sad Kertih itu akan mengawali rangkaian Pawai atau Peed Agung PKB 2020 dan menggantikan garapan Ketug Gumi dari ISI Denpasar yang selama ini telah rutin mengawali rangkaian pawai.

"Kami mencoba untuk tahun ini tidak lagi menampilkan kesenian yang terlalu berat dan besar, namun mencoba sekarang memakai Legong yang gerakannya lebih melankolis, melambangkan kesejukan, dan gerak-gerak legong yang lincah disesuaikan dengan tema PKB tahun ini Atma Kertih, penyucian jiwa paripurna," ucap Prof Arya.

Baca juga: Tiga negara perwakilan UNESCO siap meriahkan PKB Buleleng 2020

Dari Legong Sad Kertih itu, lanjut dia, para penonton juga dapat menyaksikan sejumlah gerakan-gerakan tari Legong yang mungkin tidak biasa dijumpai dalam tari Legong saat ini karena memang dalam Legong Sad Kertih merupakan hasil rekonstruksi sejumlah tari Legong klasik.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2020