Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali mencatat rasio kewirausahaan di daerah setempat hingga akhir Desember 2018 sebesar 8,38 persen atau berada di atas rata-rata nasional.

"Rasio kewirausahaan di Bali yang lebih dari 8 persen, berada jauh di atas rata-rata nasional yang kisaran mendekati 4 hingga 5 persen. Ini tentu positif untuk iklim kewirausahaan di Bali," kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali Gede Indra Dewa Putra, di Denpasar, Minggu.

Pihaknya mencatat hingga akhir 2018, jumlah UMKM di Provinsi Bali sebanyak 326.009 UMKM yang tersebar di sembilan kabupaten/kota. 

Jumlah ini meningkat sebanyak 13.042 atau sebesar empat persen dibandingkan data Desember tahun 2017, yang saat itu jumlah UMKM Bali sebanyak 312.967. Peningkatan signifikan ini pun membawa rasio kewirausahaan di Bali naik menjadi 8,38 persen.

Dari 326.009 UMKM yang tersebar di sembilan kabupaten/kota rinciannya jumlah UMKM terbanyak ada di Gianyar (75.412 UMKM) disusul Bangli (44.068 UMKM), Tabanan (41.459 UMKM), Karangasem (39.589 UMKM). Selanjutnya Buleleng (34.552 UMKM),  Denpasar (31.826 UMKM), Jembrana (27.654 UMKM), Badung (19.688) dan paling sedikit ada di Klungkung (11.761 UMKM).

"Kami selama  ini menggencarkan upaya mencetak wirausahawan baru khususnya di kalangan generasi muda dengan melibatkan berbagai 'stakeholder'. Mulai dari pelaku usaha, dunia pendidikan, para komunitas, hingga juga sosialisasi masif di media massa," ujar Gede Indra.

Contohnya Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali berhasil melakukan pemasyarakatan kewirausahaan bagi kelompok masyarakat strategis khususnya kalangan mahasiswa, sarjana dan generasi muda sebanyak 570 orang di tahun 2018.

"Kami juga tingkatkan dan dorong agar perguruan tinggi mengaktifkan program inkubasi bisnisnya agar bisa mencetak makin banyak wirausaha muda baru,"  ucapnya

Tiga Tantangan Utama

Gede Indra mengakui meskipun jumlah UMKM meningkat, masih ada tiga tantangan utama yang dihadapi pelaku UMKM yakni persoalan kualitas SDM, kapasitas permodalan, hingga peningkatan kapasitas produksi serta pemasaran.  "Oleh karena itu, progam kami pada 2109 ini juga lebih fokus diarahkan mengatasi berbagai persoalan tersebut," ujarnya.

Diantaranya kegiatan penumbuhkembangan UMKM salah satunya dilakukan melalui bimtek kewirausahaan di masing-masing kabupaten/kota. Kemudian kegiatan peningkatan akses perizinan dan pembinaan UMKM misalnya melalui sosialisasi pendaftaran HKI (Hak Kekayaan Intelektual).

Untuk progam pengembangan pemasaran produk dan peningkatan kemitraan UMKM dilakukan melalui berbagai upaya. Seperti  pameran Gebyar Smesco yang akan dilaksanakan April 2019 di Gedung Smesco Jakarta. 

Selain itu, direncanakan pameran luar daerah di Pontianak pada Juli 2019 dan juga progam kemitraan (temu bisnis) dalam daerah dengan berbagai perusahaan. "Tak ketinggalan kegiatan peningkatan akses pembiayaan UMKM lewat sosialisasi sumber-sumber pembiayaan yang akan digelar Mei 2019," kata Gede Indra.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : I Komang Suparta


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019