Rabu, 20 September 2017

TPID Bali Optimistis Risiko Inflasi Terkendali

| 274 Views
id kuota elpiji, inflasi Bali, Risiko Inflasi, TPID Bali,
TPID Bali Optimistis Risiko Inflasi Terkendali
Ilustrasi - Rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali di Gedung Bank Indonesia Denpasar (Antara Bali Via Humas Pemprov Bali/2017) (edm)
Denpasar (Antara Bali) - Tim Pengendalian Inflasi Daerah Bali optimistis risiko inflasi di daerah setempat terkendali yang berada di bawah kisaran empat persen meskipun terjadi pengurangan kuota elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram.

Wakil Ketua TPID Bali Causa Iman Karana usai memimpin rapat tertutup membahas inflasi di Kantor Bank Indonesia di Denpasar, Kamis, mengatakan pascapengurangan kuota elpiji tiga kilogram per Juni 2017, pihaknya tidak melakukan revisi target inflasi.

"Kami optimistis masih kisaran empat plus minus satu persen itu tercapai. Tidak ada kekhawatiran," ucap Causa.

Causa yang juga Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mengatakan inflasi di Bali selama Agustus 2017 mencapai 0,30 persen, terkerek dari posisi Juli mencapai 0,12 persen berbeda dengan inflasi nasional yang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,07 persen.

Secara tahunan inflasi Bali mencapai 3,34 persen, lebih rendah dibandingkan pencapaian inflasi nasional yang mencapai 3,82 persen.

Angka itu, kata dia, inflasi Bali selama tahun 2017 masih relatif terkendali dan berada pada rentang sasaran inflasi nasional.

Ia mengharapkan Pertamina mengoptimalkan sosialisasi kepada masyarakat terkait pengurangan kuota elpiji subsidi tersebut apalagi pada November 2017 mayoritas masyarakat Bali melaksanakan Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Sales Executive Elpiji Pertamina Pemasaran Bali Rainier Axel Gultom ditemui dalam kesempatan yang sama menyebutkan Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merevisi kuota elpiji tiga kilogram di Bali.

Revisi atau pengurangan kuota tersebut dari 176 ribu metrik ton (sebelumnya Rainier menyebutkan 170 ribu metrik ton) menjadi 132 ribu metrik ton per tahun (sebelumnya Rainier menyebutkan 134 ribu metrik ton).

Rata-rata konsumsi elpiji subsidi ukuran tiga kilogram itu di Bali, kata dia, mencapai sekitar 15 ribu metrik ton.

Berdasarkan data yang dipresentasikan Pertamina dalam rapat tertutup itu disebutkan bahwa seluruh wilayah di sembilan kabupaten/kota di Bali kuota elpiji tiga kilogram dikurangi padahal konsumsi selama tahun 2016 mengalami kenaikan mencapai 168 ribu metrik ton atau naik delapan persen jika dibandingkan tahun 2015.

Pengurangan kuota di beberapa wilayah di Bali di antaranya untuk Kabupaten Badung misalnya dari 19.402 metrik ton menjadi 14.358 metrik ton, Buleleng dari 22.793 metrik ton menjadi 16.173, Gianyar dari 21.921 metrik ton menjadi 15.302 metrik ton dan Denpasar dari 44.100 metrik ton menjadi 34.480 metrik ton.

Di sisi lain, Rainier mengatakan penjualan "Bright Gas" atau elpiji nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram melonjak bahkan mencapai 100 persen.

Per Agustus 2017, penjualan elpiji nonsubsidi berwarna pink itu mencapai 40 metrik ton per bulan dari rata-rata sebelumnya mencapai 20 metrik ton.

Dengan revisi kuota itu, ia mengharapkan elpiji subsidi ukuran tiga kilogram dapat menyasar masyarakat ekonomi kurang mampu dan masyarakat dengan ekonomi mampu diimbau menggunakan elpiji nonsubsidi. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga