Rabu, 20 September 2017

Siklus Ikan Nelayan Jembrana Berubah

| 276 Views
id hasil tangkap nelayan
Negara (Antara Bali) - Siklus keluarnya ikan di perairan Bali, dirasakan berubah oleh nelayan Kabupaten Jembrana beberapa tahun terakhir.

Beberapa nelayan di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Rabu mengatakan, sekitar empat tahun lalu, ikan masih keluar bergantian tergantung jenisnya, sehingga nelayan nyaris tidak mengalami masa paceklik.

"Tapi tiga tahun terakhir, ikan yang kelihatan di laut tidak beraturan. Seperti ikan tongkol, beberapa kali keluar berbarengan dengan lemuru atau ikan layang," kata Madek Rahman, salah seorang nelayan.

Kondisi ini, menurutnya, membuat nelayan kesulitan termasuk saat hasil tangkapnya dari jenis-jenis ikan tersebut melimpah, karena harga jualnya jatuh.

"Yang lebih menyulitkan kami lagi, begitu satu jenis ikan tidak ada, semuanya seolah-olah menghilang dari lautan tempat kami menangkap ikan," kata nelayan yang menggunakan perahu jenis selerek ini.

Tidak hanya nelayan pengguna perahu selerek yang berlayar jauh ke tengah laut, kondisi serupa juga dialami nelayan yang menggunakan sampan yang jarak melautnya hanya beberapa kilometer dari pantai.

Samsuri, salah seorang nelayan sampan mengatakan, posisi ikan di laut saat ini sulit diprediksi, sehingga hasil tangkapnya juga tidak menentu.

"Jaman dulu, ikan-ikan jenis kerapu dan lain-lain yang menjadi sasaran tangkap kami sudah pasti ada di beberapa lokasi di laut, sehingga begitu memasang jaring disitu kemungkinan besar pasti dapat. Tapi sekarang, posisi ikan sulit kami prediksi, sehingga hanya untung-untungan saja memasang jaring di satu lokasi," katanya.

Berubahnya siklus di laut ini juga dirasakan para isteri nelayan, yang biasanya mencari bulung (tumbuhan laut yang diolah menjadi agar-agar), saat paceklik ikan.

Nasipah, salah seorang isteri nelayan ingat, dulu tumbuhan laut tersebut tidak pernah ada berbarengan dengan ikan di laut.

"Kalau ikan ada, biasanya bulung tidak ada. Tapi sekarang kedua-keduanya bisa berbarengan ada," katanya.

Saat panen bulung tidak bersamaan dengan tangkapan ikan yang melimpah, menurutnya, penghasilan dari mencari tumbuhan laut di pantai bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.

"Sekarang antara bulung dan ikan sering bersamaan datangnya, tapi saat paceklik semuanya tidak ada," katanya.

Ia mencontohkan, saat ini tangkapan jenis ikan tongkol dan layang mulai banyak, sementara di pinggir pantai juga mulai terdampar bulung meskipun jumlahnya belum banyak.

"Serba repot juga, kalau bulung yang terdampar di pantai terlalu banyak seperti tahun lalu, hampir tidak ada harganya, bahkan banyak yang membuangnya," katanya.

Mencari bulung menjadi kegiatan para isteri nelayan di Desa Pengambengan, dengan cara memungut atau menggunakan jaring kecil untuk mengambilnya.

Bulung tersebut mereka jemur dan saat kering dijual ke pengepul, yang setelah diolah lagi, menjualnya ke pabrik agar-agar di Pulau Jawa.(GBI)

Editor: Gismadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017