Denpasar (Antara Bali) - Dosen Jurusan Karawitan, Fakultas  Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar I Made Kartawan SSn, MSi mendapat kepercayaan tampil sebagai pembicara dalam kegiatan internasional di Jepang, 14-15 Maret 2011.

"Saya mendapat kesempatan sebagai pembicara dalam simposium internasional bertajuk 'Audiovisual Ethnography of Gongs in Southeast Asia' yang digelar di Museum Nasional Ethology, Osaka," kata I Made Kartawan menjelang keberangkatannya ke Jepang di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, dalam kegiatan internasional itu akan memaparkan gong Bali, mulai dari proses produksi, peranan dan fungsinya hingga penyebaran ke berbagai negara.

Kegiatan tersebut direncanakan dihadiri seniman dari beberapa negara yang memiliki perangkat gamelan gong antara lain Kamboja, Malaysia, Filipina, dan tuan rumah Jepang.

Made Kartawan menjelaskan, selama berada di negeri Matahari Terbit itu, ia juga akan mengikuti lokakarya tentang teknik penyelarasan gong (tuning technique of gong) bertempat di Okinawa Prefectural University of Arts.

Dalam kegiatan itu juga tampil sebagai pembicara dengan kertas kerja tentang teknis penyelarasan gong, baik lewat rekaman kaset pandang dengar (video) maupun mempraktekkannya secara langsung.

"Keberangkatan saya ke Jepang mendapat dukungan dan sambutan dari Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai. S," ujarnya.

Keberangkatannya ke Jepang secara tidak langsung ikut mempromosikan ISI Denpasar dan Bali umumnya ke ke mancanegera, ujar seniman andal asal Banjar Tengah, Desa Sidakarya, Kota Denpasar.

Sebelumnya tahun 2010 ayah dua anak itu pernah melaksanakan magang di Unitachi Music Academy di Tokyo, selama dua bulan.

Rektor ISI Denpasar Prof Dr Wayan Rai S menambahkan, sekitar 17 jenis instrumen musik tradisional Bali (gamelan) berkembang di berbagai negara, bahkan mampu sejajar dengan seni musik barat.

Gamelan Bali naik gengsi, bahkan gong kebyar menjadi kehormatan  dalam menyambut tamu-tamu penting pada acara wisuda perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Masyarakat setempat sangat menikmati konser gamelan Bali yang disajikan  seniman dan mahasiswa setempat yang piawai memainkan aneka jenis alat musik Bali.

Ke-17 jenis alat musik tradisional Bali yang berkembang di mancanegara antara lain gong kebyar, angklung,  semarandanu, gambang suling dan kebyar Ding.

"Suara Suling"  yang menjadi sumber inspirasi tabuh ciptaan tahun 1963 berkembang di berbagai kampus seni dan komoditas masyarakat di mancanegara.

Musik tradisional Bali kini telah mendunia. Dunia internasional mulai berkenalan dengan gamelan, sejak komponis Prancis Claude Debussy (1862-1918) menonton gamelan di Pameran Semesta yang digelar di Paris pada tahun 1889 untuk memperingati 100 tahun Revolusi Prancis.

Masyarakat benua belahan Eropa itu, menurut Prof Rai, semakin menaruh perhatian terhadap gamelan ketika kemudian pada tahun 1931, The International Colonial Ekxposition yang digelar di Perancis menampilkan pementasan gamelan dan tari dari Desa Peliatan, Gianyar, sebagai utusan pemerintah kolonial Belanda, ujarnya.(*)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026