Kegiatan ritual tersebut berlangsung di Pura Ulun Tanjung, Petitenget, Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, dipimpin oleh Ida Peranda Putra Bajing dari Griya Tegal Jingga Denpasar dengan melibatkan ribuan warga setempat, Jumat.
Kegiatan ritual tersebut juga dihadiri Bupati Badung Anak Agung Gde Agung, Wakil Ketua DPRD Badung Drs I Made Sunarta, Ketua Tim Penggerak PKK Badung Ny Ratna Gde Agung serta seluruh Bendesa Adat, Pekaseh, Kelian Subak Abian dan Tegal se-Badung.
Kegiatan ritual disertai dengan menenggelamkan sejumlah binatang kurban ke tengah laut (pakelem).
AA Kompyang Suteja, ketua panitia kegiatan tersebut, mengatakan ritual "Nangluk Merana" dilakukan secara berkesinambungan setiap tahun, terlebih saat hama tanaman dan berbagai jenis penyakit mewabah di masyarakat.
Kegiatan tersebut selain memohon keselamatan, kesejahteraan dan dijauhkan dari segala bahaya, juga memohon Yang Maha Kuasa membatasi sebaran hama penyakit yang mengganggu tanaman di areal sawah maupun tegalan.
Kegiatan ritual berskala besar itu menghabiskan biaya Rp100 juta yang bersumber dari swadaya masyarakat Rp30 juta dan bantuan dari Pemkab Badung Rp70 juta.
Tradisi dan kebiasaan masyarakat menggelar acara ritual itu diwarisi secara turun temurun dari nenek moyang, meskipun kali ini tanaman padi dan palawija produksinya tergolong baik.
"Nangluk Merana" melibatkan masyarakat dari semua lapisan, yang tidak hanya terbatas pada anggota keluarga yang kehidupannya sangat tergantung dari aktivitas pertanian.
Petani di Bali hingga sekarang menerapkan dua cara dalam membasmi hama tanaman, yakni melalui kegaitan ritual dan menggunakan zat-zat pembasmi hama.
Kedua cara itu dilakukan secara terpadu, dan selama ini membuahkan hasil yang cukup efektif.
"Pengalaman selama ini menunjukan, jika petani hanya menerapkan satu cara, yakni membasmi hama tanaman dengan menggunakan pestisida, maka hama tikus dan walang sangit akan lari dan bersembunyi di tempat-tempat pemukiman penduduk. Dengan kata lain, hama itu tidak musnah," katanya.
Oleh sebab itu, lanjut dia, "pengusiran" hama secara ritual harus juga dilakukan untuk melebur hama-hama tersebut.
Petani sebelum mengenal iptek maupun menerapkan panca usaha bidang pertanian, tidak mengenal racun untuk membunuh hama penyakit tanaman seperti yang tersedia saat ini. "Waktu itu, petani hanya mengandalkan kekuatan ritual untuk membasmi hama, ternyata hasilnya sangat efektif," katanya menjelaskan.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026