Mangupura (Antara Bali) - Tanaman kopi di Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung tahun 2010 hingga Februari 2011 gagal panen, karena dampak cuaca ekstrem.

"Petani kopi di desa kami tahun ini gagal, karena faktor cuaca yaitu hujan yang hampir turun sepanjang tahun tersebut," kata Ketut Murja, seorang petani kopi di Plaga, Kabupaten Badung, Bali, Senin.

Di sela-sela mengikuti seminar bertema "Peran serta masyarakat dalam Penataan Ruang" yang digelar Yayasan Wisnu itu, ia mengatakan, dengan kondisi alam seperti itu, maka bunga kopi tidak bisa melakukan penyerbukan atau membusuk.

"Akibat faktor alam seperti itu, petani tidak bisa berbuat apa-apa. Petani di sini sangat mengandalkan dari perkebunan kopi," katanya.

Ia mengatakan, kopi yang dikembangkan di Desa Plaga terdiri atas dua jenis kopi yaitu robusta dan arabika. Jenis arabika paling banyak diproduksi untuk keperluan konsumen dari luar desa.

Hal senada dikemukakan I Nyoman Juta, petani kopi di Dusun Kiadan, Petang mengatakan, jenis arabika paling diminati karena rasanya tidak terlalu pahit. Sedangkan penduduk setempat sendiri lebih menyukai jenis robusta.

Juta mengatakan, dari dua jenis kopi tersebut masih terdapat beberapa variannya. Robusta, misalnya, ada varian tugusari dan BP42. Nama-nama itu merupakan pemberian dari Dinas Perkebunan Kabupaten Badung.

Ia mengatakan, tanaman kopi di Pelaga mulai dikenal warga setempat sejak zaman penjajahan Belanda.

"Awalnya warga setempat hanya mengenal kopi robusta. Pada 1980-an Dinas Perkebunan Badung mengenalkan jenis arabika melalui Proyek Rehabilitasi Perluasan Tanaman Ekspor (PRPTE).

Alasannya, kata dia, pemerintah ketika itu, selain karena lokasi Pelaga yang cocok untuk budidaya, jenis arabika juga diminati konsumen.

"Hingga saat ini, warga masih menjadikan kopi sebagai tanaman perkebunan utama," katanya. 

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Badung Putu Parwata mengatakan, untuk pembangunan infrastruktur pertanian terus dipacu, selain sektor pariwisata yang saat ini berkembang pesat di wilayah Badung bagian selatan, yaitu Nusa Dua dan Kuta.

"Kami terus mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan untuk menjadi agrowisata, karena hal tersebut berpotensi dikembangkan di Badung bagian utara, seperti di Desa Plaga ini," katanya.

Selama ini, kata dia, untuk mengembangkan agar Badung bagian utara menjadi tujuan wisata agrowisata dilakukan penataan infrastruktur pada lokasi tersebut.

"Tujuan pengembangan ini adalah untuk menyeimbangkan sektor kepariwisataan Badung bagian selatan dengan utara," ucap politisi PDIP itu.

Dengan langkah tersebut, kata Parwata, nantinya diharapkan pemerataan sektor kepariwisataan dan kesejahteraan masyarakat tercapai.

"Jika agrowisata berkembang tentu masyarakat pedesaan, khususnya di Plaga akan mendapatkan pendapatan yang lebih, dan akan berimbas pada daerah sekitarnya," kata Parwata.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026