Denpasar (ANTARA) - Program Hutan Lestari yang dilaksanakan Pertamina salah satunya di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali, telah menghasilkan harmoni alam serta kemandirian ekonomi rakyat berkelanjutan.

“Kami membuktikan menjaga energi bumi bisa sejalan dengan menghidupkan kemandirian masyarakat. Hutan tidak lagi hanya dijaga agar tidak rusak, tapi dirawat agar terus memberi kehidupan,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron melalui keterangan tertulis di Denpasar, Bali, Minggu.

Menurut dia, hutan lestari dilaksanakan mengedepankan filosofi masyarakat Bali yaitu Tri Hita Karana yakni tiga keseimbangan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam.

Melalui reforestasi pasca-erupsi Gunung Agung pada 2017, kini tak sekadar menghijaukan kembali lereng gunung api tertinggi di Bali itu tetapi juga menghidupkan kembali sendi-sendi ekonomi warga desa.

Dengan desa energi berdikari, Desa Besakih yang terletak di kaki gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu dilengkapi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kilowatt peak (kWp) dengan baterai penyimpanan berkapasitas 20 kilowatt per jam (kWh).

Energi yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk mendukung operasional petani menggunakan mesin pengolah madu hutan secara otomatis dan untuk penerangan di kawasan wisata berkemah.

Kawasan hutan Desa Besakih itu dikelola Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Maha Wana Basuki yang diketuai I Nyoman Artana.

Artana merupakan sosok penting di kelompok itu menekankan pentingnya menjaga Besakih sebagai Huluning Bali Rajya atau hulu dari Pulau Dewata.

"Mengelola lingkungan harus dimulai dari hulu. Jika lokasi ini tidak dipelihara dengan baik, Bali akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim," ucapnya.

Hasil dari menjaga hulu Bali itu berbuah manis karena LPHD mampu memanen 100 hingga 150 kg madu per tahun, dengan harga jual mencapai Rp500.000 per liter untuk madu kelanceng. 

Tak hanya itu, geliat wisata alam di lokasi ini melonjak drastis dengan pendapatan kelompok mencapai sekitar Rp120 juta per bulan, sekaligus membuka lapangan kerja bagi puluhan warga sebagai pengelola wisata.

Selain di Karangasem, Bali, Muhammad Baron menambahkan upaya keberlanjutan alam dan lingkungan juga dilaksanakan di Lampung dan Cilacap, Jawa Tengah.

Baron menambahkan Di Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, seorang warga setempat yaitu Wastoyo menjadi saksi hidup bahwa hutan bisa mengubah karakter manusia.

Jika dulu hutan adalah medan perburuan dan sasaran gergaji mesin, kini hutan adalah rumah yang ia proteksi dengan sepenuh hati.

"Dulu, menebang pohon adalah cara instan kami untuk menyambung hidup karena ketidaktahuan. Kami terjebak dalam siklus perusakan demi sesuap nasi," ujar Wastoyo.

Titik balik terjadi saat Pertamina memperkenalkan Sekolah Hutan Lestari. Melalui pendampingan intensif kepada KUPS Margo Rukun, para mantan pemburu ini bertransformasi menjadi pembudidaya ulung. 

Mereka tidak hanya menanam 50.000 bibit pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS) untuk menahan erosi, tetapi juga mengubah limbah kopi menjadi pupuk berkualitas melalui unit Pertaganik Bestari.

Dengan inisiatif itu, KUPS Margo Rukun kini mencatatkan omzet hingga Rp2,2 miliar per tahun. 

Produk bibit dan konsep budidaya lebah bahkan telah diadopsi oleh berbagai perusahaan multinasional sebagai standar rehabilitasi lahan di Lampung.

Sementara itu, di pesisir Selatan Jawa, sebuah cerita unik lahir dari tangan dingin Wahyono di Kampung Laut, Cilacap.

Di tempat yang dulunya gundul akibat pembalakan mangrove besar-besaran, Wahyono sempat dianggap "gila" oleh warga sekitar karena kegigihannya menanam kembali bakau di atas lahan yang gersang dan penuh udang yang mati terserang penyakit.

“Dulu semuanya gersang, namun, saya yakin mangrove adalah 'pabrik' alami kita, kini, keraguan warga sirna,” ujar Wahyono. 

Pembibitan secara mandiri oleh Wahyono mampu memproduksi hingga 800 ribu bibit mangrove setiap tahunnya. Kawasan tersebut kini telah menjadi pusat eduwisata yang diakui peneliti mancanegara sebagai model pemulihan ekosistem pesisir.

"Dulu mereka bilang saya gila, sekarang kita 'gila' bersama-sama untuk menjaga hutan demi masa depan anak cucu,” ucapnya.

Program Hutan Lestari telah menanam lebih dari delapan juta pohon produktif dan mangrove serta telah membina masyarakat sekitar melalui integrasi antara reforestasi, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi generasi muda. 

Program Hutan Lestari berkontribusi pada pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam mengakhiri kelaparan (SDG 2), memastikan konsumsi dan produksi berkelanjutan (SDG 12), serta aksi iklim (SDG 13). Selain itu, inisiatif ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), yang menjadi landasan BUMN itu dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan.



Pewarta: Tim Redaksi
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026