Denpasar (Antara Bali) - Sebuah patung menyerupai wanita telajang yang dibuat dari akar kayu gintungan hasil kreativitas seniman I Ketut Muja (66), asal Desa Mukti, Kabupaten Gianyar, pada bagian lehernya ditumbuhi tanaman jenis palem dan pungut.
"Patung berukuran 100 sentimeter kali 60 sentimeter yang sudah dihaluskan itu saya buat tahun 2003. Beberapa hari kemudian pada bagian lehernya sudah menempel tumbuhan jenis palem dan pungut," tutur Ketut Muja, kakek sepuluh cucu dari keenam putra-putrinya yang membentuk rumah tangga di Denpasar, Minggu.
Seniman yang khusus membuat karya patung dan cendera mata dari bahan akar-akaran berbagai jenis kayu tersebut, mengaku sudah 54 tahun menggeluti pembuatan patung, namun baru itu karya seninya mengalami keganjilan.
Selama hampir delapan tahun patung wanita telanjang itu diletakkan di dalam satu ruangan, namun kedua jenis pohon tersebut tetap tumbuh dengan memiliki dua daun.
Untuk membantu tumbuhnya perkembangan kedua jenis pohon itu, patung wanita tersebut ditunjang dengan besi agar tidak mudah rebah atau kemungkinan jatuh yang bisa mengganggu pertumbuhan dan kelangsungan hidup pohon yang sangat langka.
"Setiap dua hari sekali saya juga bantu dengan menyiramkan air pada seluruh bagian patung wanita itu, sehingga akar kedua pohon tersebut tetap basah," tutur Ketut Muja, seraya mengaku tidak banyak wisatawan atau pelancong yang berkunjung ke bengkel kerjanya mengetahui keanehan dan keunikan patung wanita tersebut.
Ia mengaku sengaja meletakkan patung wanita itu di dalam ruangan di antara ratusan karya patung berbagai bentuk dan ukuran yang siap dipasarkan.
"Saya akan tetap merawat patung itu dan tidak berniat untuk menjualnya, meskipun ada konsumen yang berniat membeli," tutur pria yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar, namun karyanya menjadi koleksi sejumlah museum di Jerman, Belgia, Jepang dan sejumlah negara lainnya, termasuk dipajang di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Ketut Muja selama 54 tahun membuat patung dari bahan berbagai jenis akar dengan karya bervariasi, sehingga cukup diminati oleh wisatawan yang berlibur ke Bali.
Karya seni yang dihasilkan sangat tergantung dari pesan dan kesan dari sebuah akar kayu, untuk selanjutnya diolah menjadi sebuah karya seni yang sesuai.
"Masing-masing akar kayu itu sudah dibentuk oleh alam dan mempunyai ideologi tersendiri untuk menghasilkan sebuah karya seni," tutur Ketut Muja menjelaskan.(*)
