Negara (Antara Bali) - Pedagang bata merah di Kabupaten Jembrana, mengeluhkan masuknya bata buatan Jawa, yang harganya lebih murah.
"Yang dari Jawa itu bukan bata merah, ada yang menyebutnya bata putih ada juga yang bilang bata ringan. Ukurannya satu setengah kali lebih besar dibanding batako, dengan harga yang jauh lebih murah," kata Erfan, salah seorang pedagang bata, di Negara, Jumat.
Ia mengaku, tidak tahu pasti dari bahan apa bata dari Jawa itu dibuat, namun beratnya jauh lebih ringan dibanding bata merah, padahal ukurannya jauh lebih besar.
Dari informasi yang ia dapatkan di Denpasar, kabarnya bata ringan tersebut dibuat dari lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.
"Benar atau tidaknya terbuat dari lumpur Lapindo saya tidak tahu. Yang jelas, akibat masuknya bata tersebut, omzet penjualan saya turun drastis," kata pedagang bata merah dari Desa Banyubiru ini.
Ia mengatakan, selain di lokal Kabupaten Jembrana, pihaknya menjual bata merah hingga ke Denpasar, melayani pemesanan toko bahan bangunan.
Menurutnya, akibat masuknya bata ringan tersebut, pemilik toko bahan bangunan juga mengeluh karena stok bata merah dan batako mereka menumpuk, karena pengusaha bata ringan di Jawa menangani pemasaran langsung hingga ke tingkat pengecer.
"Sejauh yang saya tahu, dari toko bahan bangunan yang menjadi pelanggan saya tidak ada yang menjual bata jenis itu. Mereka justru mengeluh, karena stok bata merah dan batakonya menumpuk," katanya.
Hadi, salah seorang pemilik usaha pembuatan bata merah mengatakan, tidak hanya membuat volume penjualan bata merah menurun, masuknya bata ringan dari Jawa ini membuat harga batu merah produksinya juga anjlok.
Ia mengatakan, pada musim penghujan tahun 2015, harga seribu bata merah mencapai Rp700 ribu di Denpasar, namun saat ini hanya Rp550 ribu.
"Musim kemarau tahun lalu harganya masih lebih tinggi dibanding musim hujan tahun ini. Padahal, biasanya saat musim kemarau harga bata merah lebih murah dibanding musim hujan. Musim kemarau lalu harga masih Rp600 ribu hingga Rp650 ribu," katanya.
Menurunnya volume penjualan bata merah khususnya ke Denpasar, juga mengancam buruh yang bekerja menaikkan dan menurunkan bata tersebut dari truk.
Topik, salah seorang buruh menaikkan dan menurunkan bata merah mengatakan, sudah sekitar satu minggu terakhir, dirinya tidak bekerja karena tidak ada pesanan dari Denpasar.
"Kalau hanya mengandalkan pembelian dari lokal Kabupaten Jembrana sangat kecil. Dulu saya bisa dua sampai tiga kali setiap minggu ke Denpasar mengantar bata merah, sekarang sudah sekitar satu minggu tidak bekerja," katanya.
Ditanya kualitas dan kekuatan bata ringan dibandingkan bata merah, tiga orang tersebut tidak bisa menilainya, namun menurut mereka, bagian tengah bata ringan tersebut berongga kecil-kecil dan saat diangkat sangat ringan.(GBI)
