Denpasar (Antara Bali) - Sejumlah komunitas warga mengajak masyarakat berani minta informasi dan mengawasi pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia, khususnya Bali 9 Desember 2015.

"Warga Bali didorong terlibat mengawasi jalannya Pilkada seperti mengakses informasi tahapan Pilkada, mengecek daftar pemilih, dan rekap suara," kata pegiat Sloka Institute Luh De Suriyani di Denpasar, Senin.

Ia mengatakan, hal penting lainnya menyangkut informasi rekam jejak para kandidat, laporan harta kekayaan pejabat negara, dan APBD setempat untuk melihat kesesuaian visi dan misi kandidat bupati/wakil bupati maupun wali kota dan wakil wali kota.

Hal itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan internet dan media sosial, seperti yang dilakukan saat Pilpres lalu. Terlebih saat ini komisi pemilihan umum (KPU) sudah mendeklarasikan E-PPID atau pejabat pengelola informasi via online.

Masyarakat kini juga bisa memanfaatkan aplikasi pengawasan Pilkada yang bisa diunduh di ponsel yang terhubung internet. Pada November lalu KPU dan Perludem membuat sayembara aplikasi dan sudah ada pemenangnya.

Selain itu secara sederhana bisa dilakukan dengan menulis temuan atau informasi terkait Pilkada di media sosial seperti Twitter dan Facebook menggunakan "hastag #MelekPilkadaBali".

Luh De Suriyani menambahkan, kampanye tersebut dirintis sejumlah warga dari beberapa kabupaten seperti Tabanan, Gianyar, Denpasar, Nusa Penida, Karangasem, dan Bangli.

Ada pula yang menjadi tim pewarta warga di Tulamben, Pejeng, komunitas Tabanan Lover, Nusa Penida Media, LBH APIK, Yayasan Wisnu, dan juga wartawan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Kampanye tersebut berawal dari Lokalatih Seni Mengolah Informasi Publik untuk Perubahan Sosial yang dilaksanakan Sloka Institute, Indonesian Parliamentary Center (IPC), didukung The Asia Foundation pada November lalu di Denpasar.

Komunitas warga lalu mencoba uji akses informasi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait untuk meminta sejumlah informasi dan digunakan membuat materi kampanye #MelekPilkadaBali ini.

Warga ada yang memilih minta informasi lewat "form online" di website KPU daerah, datang langsung, dan menelpon. Hanya sedikit permintaan informasi lewat online yang mendapat jawaban.

Sementara jika datang langsung informasi cenderung diberikan. Informasi penting yang paling banyak diakses adalah visi misi kandidat pasangan calon yang ternyata tak mudah ditemukan secara online.

"Kami ingin melihat apakah visi misinya sesuai dengan masalah yang ada," kata Dedi Arsana warga Tulamben yang mengamati visi misi pasangan calon tidak ada mengkhusus atau lebih spesifik mengenai masalah pesisir Pantai Karangasem, hanya ada secara umum mengenai meningkatkan destinasi, kualitas, dan pembangunan pariwisata.

Padahal perairan adalah sumber daya alam penting di Karangasem dan juga menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kawasan wisata perairan Tulamben saja memberikan salah satu PAD terbesar setelah Pura Besakih.

Dedi lalu membuat poster untuk menggugah kesadaran pada ancaman pesisir yang rusak dan mendorong warga #MelekPilkadaBali.

Sementara Talov dari Tabanan mengkritisi visi misi terkait pertanian yang menjadi program di semua pasangan calon di daerah lumbung beras ini. Namun belum mengangkat masalah vital seperti keadilan distribusi air. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026