Tabanan (Antara Bali) - Penjabat Bupati Tabanan, Bali Wayan Sugiada melihat dari dekat kehidupan Dayu Ketut Nadi (70), yang terbelenggu dalam kemiskinan akibat penyakit lumpuh yang dideritanya sejak kecil di Banjar Abian Tuwung Kelod, Desa Abian Tuwung, Kediri, Sabtu.

Kedatangan pejabat Bupati Wayan Sugiada disambut isak tangis Dayu Nadi yang saat itu hanya bisa duduk di tempat tidur dalam kamar ukuran dua kali tiga meter.

Dalam pengapnya kamar tersebut, Dayu Nadi terlihat rikuh hingga harus meminta maaf kepada Penjabat Bupati Sugiada atas kondisi kamar yang ditempatinya. "Maafkan kondisi kamar saya seperti ini," sembari menahan rasa sakit di kakinya.

Melihat tangisan Dayu Nadi dan permintaan maafnya, Penjabat Bupati Sugiada berusaha menenangkan dan menghiburnya dengan bertanya apakah nenek itu sudah makan.

Meski berusaha dihibur oleh orang yang memimpin Tabanan, isak tangis Dayu Nadi tak kunjung surut. Sakit yang dideritanya masih membuat dia kesulitan untuk bergerak leluasa menerima tamunya.

Melihat Dayu Nadi kesulitan bergerak, Penjabat Bupati Sugiada meminta Dayu Nadi untuk tetap di posisinya. Tak lama kemudian, dia bertanya apakah kakinya selama ini pernah dilatih.

Menurut adik Dayu Nadi, dulu kakaknya tersebut sudah pernah diajak keluar kamar untuk melatih kakinya berjalan, namun begitu menginjak tanah, kakinya sama sekali tidak kuat.

Hal itu membuat Penjabat Bupati Sugiada menjadi penasaran dengan penyakit yang diderita Dayu Nadi. Terlebih setelah mengetahui kalau nenek tersebut tidak pernah berobat sama sekali. Sehingga diagnosa penyakitnya tidak jelas. Entah reumatik atau asam urat. Belum lagi, Dayu Nadi sampai harus berterus terang soal kondisi kamarnya yang pengap.

Karena seluruh aktivitasnya sehari-hari harus dilakukan di kamar kecil itu. Mulai dari makan, mejejahitan agar dirinya memiliki uang bekal, sampai buang air.

Pengakuan itu semakin membuat Penjabat Bupati Sugiada terenyuh. Sampai-sampai Penjabat Bupati yang tadinya setengah berdiri akhrinya ikut jongkok menemani nenek tersebut untuk ngobrol lebih dalam.

Bahkan Penjabat Bupati Sugiada sampai memegang kaki nenek tersebut saat nenek Dayu Nadi meringis kesakitan.

Tak lama kemudian dia menanyakan obat apa saja yang dipakai Dayu Nadi untuk menahan rasa sakitnya. Oleh nenek itu, pertanyaan itu dijawab hanya dengan obat-obatan berupa minyak hangat atau urut. Tapi dia mengaku kalau obat-obatan itu tidak memberikan efek sama sekali.

Penjabat Bupati Sugiada menyerahkan bantuan sembako dan uang tunai untuk membantu kesulitan ekonomi yang dialami Dayu Nadi dalam jangka pendek.

Selebihnya, untuk masalah kesehatannya, Penjabat Bupati Sugiada meminta Dinas Kesehatan untuk membantu Dayu Nadi mendapatkan perawatan medis.

Sementara kepada Kepala Dinas Sosial I Nyoman Gede Gunawan yang kebetulan hadir di lokasi, dia meminta agar masalah tempat tinggal Dayu Nadi segera diperbaiki lewat program bedah rumah agar bisa dihuni dengan layak.

Namun untuk masalah bedah rumah, sejatinya Dayu Nadi sudah sempat didaftarkan oleh pihak desa. Hanya saja, untuk merealisasikannya pihak keluarga masih perlu melakukan rembug untuk masalah tempatnya. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026