Denpasar (Antara Bali) - Desa Peguyangan Kaja di Kecamatan Denpasar Selatan, dinilai luar biasa karena mampu menggelar pekan olahraga, seni dan budaya dengan meriah dalam upaya mendukung perwujudan Denpasar sebagai kota kreatif berbasis budaya unggulan.

Dari arena Porsenides Peguyangan Kaja, Senin dilaporkan, kegiatan yang melibatkan kontingen dari tujuh banjar atau dusun setempat itu telah dibuka oleh Camat Denpasar Utara I Made Nuada.

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung hingga Jumat (8/10) itu, dibuka dengan acara seremonial layaknya kegiatan berskala lebih besar, diwarnai pelepasan seikat balon warna-warni.

Selain itu penyerahan piala bergilir berukuran besar dari Banjar Uma Desa sebagai juara umum olahraga tradisional, yang merupakan cikal bakal porsenides, kepada Wayan Sudiana selaku ketua panitia.

Camat Denpasar Utara yang didampingi Kades Peguyangan Kaja I Wayan Sutama dan Ketua Panitia Wayan Sudiana, berharap melalui kegiatan skala kecil namun cukup semarak itu mampu menjadi wahana dalam berkompetisi pada semua cabang olahraga dan menampilkan aneka kreasi seni budaya.

Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat memasyarakatkan olahraga tradisional pada generasi muda, sekaligus melestarikannya. "Kami turut senang atas kebersamaan warga yang sejak awal menyemarakkan acara ini," ujar Made Nuada yang sebelumnya menjabat Lurah Tonja.

Antusiasme masyarakat yang tinggi untuk mengikuti dan menyaksikan porsenides, menunjukkan kepedulian dan rasa memiliki dalam pelaksanaan kegiatan di desanya, ujarnya.

Kebersamaan yang telah terpupuk dengan baik itu diharapkan menjadi modal dalam menyukseskan pembangunan di tingkat desa, selain mendorong pembinaan atlet dan daya kreativitas seniman di berbagai bidang.

Penyelenggaraan porsenides itu diharapkan memotivasi desa lain untuk menggelar kegiatan serupa yang lebih semarak, sehingga nantinya mendukung rencana pelaksanaan pekan olahraga, seni dan budaya tingkat kecamatan.

Kades Peguyangan Kaja Wayan Sutama mengatakan, acara itu digelar sebenarnya bermula dari kompetisi olahraga tradisional yang telah dua kali digelar dan kini dikembangkan menjadi porsenides.

Dalam porsenides itu, untuk seni tradisional parade "baleganjur" yang diikuti tujuh Sekaa Truna Truni (kelompok muda-mudi), masing-masing grup diberikan dana motivasi Rp1 juta.

Kegiatan lainnya di antaranya lomba "pesantian", semacam tembang kidung yang diikuti sembilan kelompok. "Kami terharu melihat antusiasme warga untuk mengikuti dan menyaksikan porsenides," ujar Sutama bangga.

Ia berencana untuk terus mengembangkan porsenides, yakni tidak saja melibatkan muda-mudi, tetapi juga kelompok ibu-ibu PKK, kelompok anak-anak untuk berbagai lomba seperti "ngulat klangsah" (anyam-anyaman daun klangsah), "mejejaitan" (merangkai janur) dan beberapa seni ritual keagamaan.

"Pengembangan beberapa cabang seni budaya itu penting untuk menanamkan budaya leluhur kepada anak-anak, sehingga budaya yang kita miliki tetap terjaga," kata Sutama berharap.(*)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026