Singapura (Antara Bali/AFP) – Harga minyak turun di Asia pada Senin setelah terjadi penyusutan tajam dalam produksi industri Tiongkok hingga meningkatkan kekhawatiran tentang menurunnya permintaan di negara pengonsumsi energi terbesar di dunia itu, ujar analis.
Acuan minyak mentah Amerika Serikat meliputi West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober turun 1,06 dolar Amerika (sekitar Rp12.605,27) menjadi 91,21 dolar Amerika (sekitar Rp1,08 juta), sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman di bulan yang sama turun 63 sen menjadi 96,48 dolar Amerika (sekitar Rp1,15 juta) pada perdagangan pagi.
“Minyak melemah saat investor menerima data produksi industri Tiongkok yang juga lemah pada akhir pekan,†kata Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Market Sydney, kepada AFP.
“Angka tersebut terus memperpanjang cerita tentang melambatnya permintaan di Tiongkok,†tambahnya.
Tiongkok pada Sabtu mengatakan bahwa produksi industri tumbuh 6,9 persen bulan lalu, tingkat terlemahnya sejak Desember 2008.
Indikator utama itu turun dari pertumbuhan 9,0 persen pada Juli dan juga jauh di bawah peningkatan median 8,7 persen dalam survei terhadap 15 ekonom oleh The Wall Street Journal.
Angka tersebut menambah kekhawatiran tentang ekonomi terbesar kedua di dunia – penggerak utama perdagangan dunia – setelah beberapa indikator terbaru menunjukkan turunnya pertumbuhan bahkan setelah mengambil langkah stimulus terbatas.
McCarthy mengatakan para dealer juga mengawasi dampak dari sanksi terbaru negara-negara Barat terhadap Rusia setelah diduga berperan dalam pemberontakan di Ukraina.
Sanksi dari Amerika Serikat yang diumumkan pada Jumat menargetkan bank Sberbank Rusia serta perusahaan teknologi dan energi terkemuka di negara tersebut.
Sementara langkah sanksi Eropa diberlakukan terhadap perusahaan energi, keuangan dan pertahanan Rusia termasuk raksasa minyak Rosneft.
“Sanksi baru tersebut bisa menurunkan permintaan minyak dalam jangka panjang, namun secara umum masih menjadi kekhawatiran kedua bagi para investor pada saat ini,†ujar McCarthy. (WDY)
: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.