Denpasar (Antara Bali) - Bali melakukan revitalisasi sektor pertanian dengan menyinergikan pengembangan sektor pariwisata sehingga satu dengan lainnya saling mendukung dan mampu memberikan dampak positif terhadap kehidupan petani.

"Kebutuhan hotel dalam memenuhi konsumsi wisatawan selama menikmati liburan di daerah ini diharapkan bisa dipenuhi dari hasil produksi petani setempat," kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, petani dalam proses produksi diarahkan untuk mampu meningkatkan mutu sesuai kebutuhan hotel maupun restoran.

Pemprov Bali dalam mengintensifkan pembangunan sektor pertanian memberikan subsidi pupuk, bantuan berbagai jenis bibit unggul, dengan harapan mampu meningkatkan mutu hasil pertanian.

Selain itu, mengembangkan teknologi berbasis sumber daya lokal dan menerapkan penggunaan pupuk organik serta menghindari penggunaan pestisida dalam proses produksi pertanian.

Ketut Teneng menambahkan, upaya tersebut juga disertai dengan menerapkan sistem pertanian terintegrasi (Simantri) yang dirintis Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Wagub AAN Puspayoga hingga kini mampu menjangkau 50 desa tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Pola pertanian terpadu itu setiap tahunnya akan ditambah minimal 30 unit dengan harapan mampu menjangkau 30 desa lain di Bali.

Ketut Teneng menambahkan, perluasan dan pengembangan  pola pertanian terpadu itu dilakukan mengingat sektor pertanian menjadi tumpuan harapan hidup sebagian besar masyarakat Bali.

Oleh sebab itu, pengembangan simantri tetap akan dilakukan di masa-masa mendatang, mengingat masih banyak petani yang mendambakan sentuhan proyek tersebut, ujar Ketut Teneng.

Pemerintah Provinsi Bali, menurut I Ketut Teneng, mengalokasikan dana sebesar Rp8 miliar untuk bantuan sosial bidang pertanian yang khusus diarahkan untuk pengembangan 40 gabungan kelompok tani (Gapoktan) dalam tahun 2010.

Dana yang bersumber dari APBD Bali 2010 menitikberatkan pola pengembangan tani terintegrasi sebagai kelanjutan program tahun sebelumnya. Kegiatan serupa tahun 2009 menjangkau pengembangan sepuluh unit Gapoktan dengan dukungan dana Rp2,3 miliar.

Pola pengembangan pertanian tersebut digarap secara terpadu oleh instansi teknis, dengan memprioritaskan desa-desa yang warganya 35 persen lebih masih menyandang predikat miskin.

Ketut Teneng menjelaskan, pengembangan pertanian terintegrasi sebagai upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, minimal dua kali lipat pada tahun 2013.

Sepuluh unit percontohan pola pertanian terpadu yang digarap tahun 2009, bisa ditiru Gapoktan yang menjadi sasaran pengembangan 2010.

Dengan adanya proyek percontohan kegiatan simantri, sasaran 2010 tidak menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti, karena petani sebelum mengembangkan pola pertanian terintegrasi terlebih dahulu bisa melihat dari dekat aktivitas petani dalam mengembangkan pola terpadu, baik menyangkut sektor peternakan, perkebunan, perikanan maupun mengembangkan tanaman sela, ujar Ketut Teneng. (*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026