Denpasar (Antara Bali) - Bali memperoleh devisa nonmigas dari Jepang sebesar 20,4 juta dolar AS selama Juli-Desember 2013, dan sebagian besar atau 13,3 juta dolar di antaranya untuk membeli ikan tuna.

"Selain tuna, masih ada ekspor hasil kerajinan Bali ke Jepang, walaupun jumlahnya tidak sebanyak sebelum bencana alam tsunami melanda negeri `matahari terbit` beberapa tahun lalu," kata eksportir aneka kerajinan Bali, Made Sudiana di Denpasar, Senin.

Ia mengatakan perolehan devisa Bali tersebut sesuai data resmi yang dikeluarkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali.

Kualitas hasil kerajinan buatan perajin dan seniman Bali mampu memenuhi selera konsumen di Jepang, sehingga realisasi ekspor aneka jenis aksesoris yang dihasilkan daerah ini laris di negeri tersebut dan mampu memperbesar perolehan devisa.

Made Sudiana mengakui masyarakat Jepang banyak membeli hasil laut dari Bali seperti tuna segar maupun yang sudah diawetkan yang nilainya hampir 60 persen dari seluruh devisa yang dikeluarkan selama ini, menyusul kerajinan kayu dan pakaian (tekstil dan produk tekstil).

Sekitar sepuluh persen atau 1,8 juta dolar devisa yang dikeluarkan masyarakat Jepang diperuntukkan membeli aneka pakaian rajutan maupun non rajutan dan hanya sekitar 6,2 persen dibelikan aneka barang kerajinan berbahan baku kayu.

"Ini artinya pengusaha Bali semakin mampu memenuhi kualitas barang yang diminta konsumen dari Jepang," ujar Made Sudiana sambil menyebutkan bahwa konsumen asal Jepang umumnya meminta mata dagangan berkualitas terbaik.

Soal harga tidak terlalu masalah bagi konsumen negeri matahari terbit tersebut, yang penting barang dibuat dalam bentuk yang praktis dengan mengikuti pola hidup masyarakat di sana yang lebih mementingkan masalah mutu.

Made Sudiana yang lebih banyak memperdagangkan hasil kerajinan ke negeri itu mengatakan, Jepang merupakan negeri pembeli nonmigas Bali yang terbanyak kedua setelah Amerika Serikat, kemudian disusul dari konsumen Perancis.

Aneka kerajinan buatan masyarakat Bali seperti perabotan rumah tangga dari anyaman bambu yang dipadukan dengan rotan, sumpit yang dibuat dengan artistik dari bahan baku kayu hitam yang dilapisi perak berukir khas Bali.

"Garmen sentuhan wanita perajin Pulau Dewata dengan rancang bangun (disain) bermuatan budaya lokal juga banyak diterbangkan ke Jepang selain pakaian tradisional Jepang jenis kimono juga ada di produksi di Pulau Dewata," kata Made Sudiana. (WRA) 

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika
: I Gede Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026