Denpasar (Antara Bali) - Ratusan petani kelompok Subak Babakan, Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali, pada musim panen raya sekarang ini dibuat "menangis" karena gabah yang dihasilkan laku dengan harga yang sangat rendah.

Subak dengan ratusan hektare sawah itu tengah panen raya bersamaan dengan tanaman padi di daerah lainnya di Bali, namun petani kesulitan untuk menjual hasilnya dengan harga memadai, kata beberapa petani setempat, Selasa.

I Made Kembar, salah seorang petani Subak Babakan menuturkan, saat tanaman padinya seluas 35 are (3.500 meter persegi) telah menguning, "penebas" hanya berani membeli borongan di sawah seharga Rp3,3 juta.

"Itu pun setelah dipanen, tengkulak yang membelinya mengaku merugi dan hanya bersedia membayar Rp2,75 juta," tutur Made Kembar yang mengaku tidak bisa berkutik dan terpaksa menerima pembayaran yang rata-rata hanya Rp79.000 per are (100 meter persegi).

Harga yang demikian itu dinilai tidak sebanding dengan biaya pupuk dan sarana produksi lainnya yang semakin mahal. Biaya produksi tinggi karena tanaman padi itu sempat terkena serangan hama wereng dan walang sangit.

Made Kembar terpaksa menerima pembayaran tersebut dengan alasan tidak ada pembeli lain yang berani menawar dengan harga lebih tinggi. Sementara kalau dipanen sendiri terbentur kesulitan lantai jemur, selain kondisi cuaca hujan yang dikhawatirkan menimbulkan kerugian lebih parah.

Petani lainnya I Made Darma (47) menuturkan, jika padinya dipanen sendiri akan dibuat keteteran, terutama kesulitan untuk bisa menjemur padi dalam kondisi yang terus hujan.

Oleh karena itu para petani mengharapkan Bulog Divisi Regional Bali turun tangan menanggulangi masalah tersebut. "Kami sebagai petani belum siap menerima sistem mekanisme pasar, mengingat pengetahuan petani dalam bidang pemasaran sangat minim," tutur Made Darma.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali Ida Komang Wisnu dalam kesempatan terpisah mengakui, petani di daerahnya masih menjual gabah kualitas rendah dengan kadar air kurang dari 25 persen, bahkan hanya 12,64 persen.

Hal itu akibat masih tingginya curah hujan yang berpengaruh terhadap kualitas gabah kering panen (GKP), karena pascapanen petani kesulitan untuk menjemurnya.

Ia menyebutkan untuk kualitas GKP pada April 2010 kembali turun dibandingkan dengan harga pada bulan sebelumnya. Harga gabah di tingkat petani turun 1,93 persen dan di tingkat penggilingan sampai 2,27 persen.

Disebutkan pula bahwa untuk kualitas GKP di tingkat petani harganya Rp2.734,80 per kilogram, sedangkan di tingkat penggilingan Rp2.777,22/kg. "Menurunnya harga tersebut akibat mulai datangnya musim panen raya," katanya.

Ida Komang Wisnu mengemukakan, berdasarkan hasil observasi selama April 2010 terdapat transaksi GKP di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) hingga 3,45 persen.

Harga kualitas GKP terendah untuk varietas ciherang di tingkat petani sebesar Rp2.600,00/kg. "Ini kami temukan di Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan," ujarnya.

Sebaliknya, masih kata Komang Wisnu, harga GKP tertinggi di tingkat petani sebesar Rp3.000,00/kg varietas ciherang ditemukan di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan.(*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026