"Ini menjadi gambaran dari masyarakat yang sudah bosan dengan politik dan mengharapkan sebuah perubahan nyata bagi hidupnya namun tidak direspons oleh calon pemimpin," ujarnya di Denpasar, Selasa.
Dekan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Undiknas tersebut mengemukakan hal itu pula yang menjadikan masyarakat bersikap pragmatis.
"Makanya jangan disalahkan masyarakat dengan mudah menjual suaranya seharga Rp50-Rp100 ribu karena bagi mereka uang lebih penting daripada gagasan politik tentang perubahan," ujar Subanda. (M038)
Pewarta: Oleh I Made Argawa: M. Irfan Ilmie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.