Bangsa Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 kemerdekaan RI pada hari Sabtu, 17 Agustus 2013 di seluruh pelosok daerah di Nusantara dengan sukaria dan sukacita.

Berbagai kegiatan lomba yang mampu memberikan rasa senang, gembira dan tertawa digelar masyarakat mulai dari tingkat Banjar, Desa, Kecamatan, Kabupaten hingga Provinsi.

Salah satu lomba yang unik dan menarik yang digelar masyarakat Desa Yehembang, Kabupaten Jembrana, Bali barat adalah lomba menggendong istri yang diikuti puluhan suami.

Sebanyak 21 pasangan suami-istri ikut ambil bagian dalam kegiatan "mengumbar tawa" di tanah lapangan desa yang mampu menarik perhatian sebagian besar masyarakat setempat, tutur Kepala Desa Yehembang Made Semadi.

Kegiatan lomba yang unik berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya sengaja dilakukan untuk memberikan hiburan yang segar kepada masyarakat dalam memperingati HUT kemerdekaan kali ini.

Peserta suami-istri untuk menjadi pemenang harus beradu cepat menuju garis finis dengan menggendong isteri melintasi jarak 20 meter. Tepuk tangan dan sorak sorai saat peserta berjatuhan.

"Istri saya berat, tidak kuat menggendongnya sampai garis finis," ujar Komang Kembar (35), seorang peserta yang terjatuh saat baru berlari lima meter.

Selain Kembar, beberapa suami yang memiliki istri dengan berat badan ekstra juga kesulitan mencapai finis dan harus tersisih karena terjatuh.

Itulah salah satu cara yang unik dan menarik dalam memperingati hari jadi Kemerdekaan RI di Pulau Bali disamping ada yang menggelar lomba panjat pinang memperebutkan berbagai hadiah, tarik tambang di tengah sawah, naik sepeda ondel berboncengan mengenakan busana adat Bali maupun menangkap bebek di Sungai Badung yang mengalir membelah Kota Denpasar.

Ketua Umum Dewan Harian Nasional Angkatan 45 Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto saat mendeklarasikan Gerakan Nasional Pembudayaan Pancasila (GNPP) di Monumen Perjuangan Bangsal di kawasan pertigaan Gaji-Sempidi-Dalung Kabupaten Badung, Kamis (15/8) menegaskan, Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 adalah rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Besar kepada bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu seluruh masyarakat, bangsa dan negara harus dapat mensyukuri sesuai dengan firman-NYA. "Apabila engkau bersyukur atas nikmat-KU, maka akan Aku lipat gandakan kenikmatan bagimu, tetapi bila engkau ingkar atas nikmat-KU maka azab-Ku teramat pedih"

Oleh sebab itu mensyukuri nikmat Tuhan adalah dengan cara memelihara, melaksanakan dan mengembangkan hakekat kemerdekaan seperti yang diungkapkan Bung Karno bahwa arti, ciri dan hakekat kemerdekaan suatu bangsa adalah berdaulat dibidang politik, berdikari bidang ekonomi dan berkepribadian dalam budaya (Tri Sakti Kemerdekaan).

Tyasno Sudarto mengajak dalam memperingati HUT Kemerdekaan kali ini merenung dengan hati yang jujur, maka terasa hakekat kemerdekaan yang Tri Sakti itu justru semakin menjauh.



Tidak lagi berdaulat penuh

Tyasno Sudarto di hadapan berbagai elemen dan komponen masyarakat Bali menuturkan, bangsa Indonesia kini tidak lagi berdaulat penuh seratus persen, karena dalam bidang politik sangat tergantung pada politik luar negeri.

Ketergantungan pada politik negara lain semakin mendalam, bidang ekonomi belum mandiri dan sumber daya alam 80 persen lebih dikuasi asing. Sementara kepribadian bangsa yang adhi luhung telah terkikis oleh budaya instan dari pengaruh asing dan global.

Situasi dan kondisi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kini semakin tidak menentu, ideologi, falsafah bangsa dan dasar negara Pancasila telah ditinggalkan, terutama oleh para pemimpin, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Bahkan dalam merancang dan membentuk undang-undang Pancasila tidak lagi dijadikan landasan dan rujukan utamanya. Sebaliknya sistem neokolonialisme justru mengemuka, padahal sistem itu sangat bertentangan dengan Pancasila.

Demokrasi multi partai dan transaksional hanya akan mengutamakan kepentingan golongan atau individu sehingga sering kali mengalahkan kepentingan bangsa. Demikian pula usaha-usaha untuk kepentingan sesaat mengalahkan kepentingan tercapainya tujuan yang lebih jauh.

Budaya individualisme menonjol mengaburkan budaya gotong royong dan kekeluargaan masyarakat, musyawarah mufakat sebagai bentuk utama dekomrasi Pancasila telah ditinggalkan dan diganti dengan cara voting, adu kekuatan dan adu kuantitas tanpa mempedulikan hikmah kebijaksaan dalam permusyawatan perwakilan.

Cara-cara ekonomi Pancasila juga dianggap gagal dan diganti dengan sistem ekonomi pasar yang sangat liberal sehingga ekonomi Indonesia hanya dikuasai kekuatan pemodal besar sebagai sistem kapitalisme.

Rakyat hanya dijadikan alat dan objek ekonomi, sehingga walaupun secara makro ekonomi tumbuh dengan cepat, namun kesenjangan yang kaya dan miskin sangat besar di masyarakat.

Hal itu terlihat jelas dengan tergusurnya pasar-pasar tradisional oleh supermarket yang dimiliki para pemodal besar. Belum lagi SDA yang sangat kaya dikuasai oleh modal asing dan tidak lagi digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa telah ditinggalkan dan UUD 1945 merupakan Konstitusi Proklamasi telah diubah seenaknya, mengikuti perintah atau persepsi kekuatan luar.

Semua itu menyebabkan menjadi konstitusi yang amburadul, karena tidak sesuai lagi antara jiwa dan roh yang ada dalam pembukaan dan batang tubuhnya, apalagi penjelasannya dibuang begitu saja.

Peristiwa amandemen telah terjadi empat kali pada UUD 1945 sehingga perlu solusi untuk mengatasi kemelut kenegaraan yang carut marut itu dengan harus kembali menjadi bangsa Indonesia yang berkepribadian Indonesia sejati.

Selain itu kembali ke Pancasila, UUD 1945 (asli) dengan catatan dapat saja disempurnakan, tetapi tidak merubah jiwa dan rohnya. Untuk itu perlu dibentuk Badan Penerus Pembudayaan Kejuangan `45 di pusat, daerah dan cabang-cabang di seluruh Indonesia melaksanakan gerakan nasional pembudayaan Pancasila (GNPP).

GNPP itu dilaksanakan oleh segenap lapisan masyarakat bangsa Indonesia, sekaligus kampanye dalam perang persepsi dunia yang harus dapat dimenangkan dalam menyelamatkan bangsa dan NKRI yang dimulai dari Bali, tutur Tyasno Sudarto dengan penuh semangat.  (WRA) 

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika
: I Gede Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026