Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), pihaknya mengejar target skrining 90 persen orang dengan hepatitis B dan C sesuai yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk mencegah penyakit hati dan kanker.
"Targetnya 90 persen, sekarang realisasi baru 10. Yang di-treatment targetnya 80 persen, yang direalisasi mungkin nggak tahu 5 atau 3 persen atau 1 persen," kata Budi di Jakarta, Selasa.
Oleh karena itu, katanya, pihaknya menggalakkan CKG agar dapat mencakup 136 juta orang pada 2026, dari yang sebelumnya 70 juta pada 2025. Dengan CKG yang agresif, katanya, penyakit hati, baik yang disebabkan virus hepatitis B dan C, konsumsi alkohol, maupun obesitas, dapat segera ditemukan.
"Skrining-nya diagresifkan bukan hanya skrining darah, tapi juga kalau bisa, skrining radiologi-nya juga di-enhance," ujarnya.
Sebagai upaya untuk memperluas skrining hati, katanya, pihaknya juga akan mengeluarkan kebijakan untuk melatih dokter umum di puskesmas agar dapat melakukan skrining hati agar dapat mengidentifikasi masalah seperti perlemakan hati (fatty liver) atau fibrosis.
"Sama seperti yang jantung, kita lakukan EKG itu kita bagi ke 10 ribu puskesmas. Dokter-dokter GP-nya kita latih baca EKG. Supaya bisa apa? Supaya mereka bisa treatment dini," katanya.
Begitu pun dengan penyakit hati. Dia menyebutkan bahwa dengan adanya USG yang didistribusikan ke puskesmas-puskesmas, hal itu bisa dimanfaatkan untuk skrining hati juga.
Selain skrining, dia juga menyoroti perlunya memastikan penanganan tingkat awal dapat dilakukan di puskesmas.
"Jadi kalau sudah ketahuan, daripada nunggu sampai sirosis, begitu sudah fibrosis langsung kasih saja obatnya," ujarnya.
Terkait hal tersebut, pihaknya juga menyoroti perlunya memperbaiki harga obat-obatan di Indonesia. Dia mencatat bahwa harga obat di Indonesia bisa mencapai 2-6 kali harga obat di dunia.
Dia mencontohkan, harga Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF), yang dinilai paling bagus untuk penanganan hati, mencapai 4,8 dolar AS, sementara di tingkat global harganya cuma 2,4 dolar AS.
"Daclatasvir (DAC) untuk Hepatitis C, di kita 152 dolar. Di dunia harganya 24. Kita 6,4 kali lipat," katanya.
Dia berharap dengan tata laksana yang ditingkatkan, mulai dari skrining di puskesmas hingga negosiasi untuk penurunan harga obat, maka penyakit hati dapat ditangani dengan lebih baik sejak awal.
Pewarta: Mecca Yumna Ning PrisieEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026