Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis kejiwaan atau psikiater dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Adhitya S Ramadianto, SpKJ(K) menyoroti tanda pekerja mulai mengalami burnout atau kelelahan karena pekerjaan.
Kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, Adhitya menjelaskan tanda-tanda burnout biasanya terbagi ke tiga gejala besar, salah satunya emotional exhaustion atau lelah secara emosional. Kondisi ini membuat seseorang merasa energinya seperti terkuras begitu terbangun dan mengingat pekerjaan yang menanti.
"Enggak punya tenaga, enggak mau bangun, mendingan merem lagi. Sampai di tempat kerja sudah membayangkan kapan bisa pulang," kata Adhitya menjelaskan tanda-tanda burnout yang kerap ditemui pada seorang pekerja.
Rasa lelah tersebut tidak proporsional dengan beban kerja alias seseorang merasa lebih lelah dibandingkan dengan beban kerja yang dia hadapi.
Kemunculan depersonalisasi, kondisi ketika seseorang tidak lagi hadir sepenuhnya secara mental dalam pekerjaannya karena sudah terlalu lelah, menjadi gejala kedua seseorang mengalami burnout dalam pekerjaan. Gejala itu biasanya lebih terasa pada profesi yang banyak berinteraksi dengan orang lain, seperti tenaga kesehatan, petugas layanan konsumen, dan pekerjaan berbasis jasa lainnya.
Gejala ketiga, yaitu kelelahan yang berkepanjangan membuat pekerja cenderung hanya fokus mengejarkan tugas seperlunya. Setelah pekerjaan selesai, pekerja kerap tidak merasakan adanya pencapaian atau kepuasan atas hasil kerja yang dilakukan.
Mengurangi burnout
Burnout dalam pekerjaan, kata Adhitya, bisa dikurangi antara lain dengan menerapkan work-life balance (keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan sosial) dan quiet living (cara hidup yang memprioritaskan ketenangan.
Efektivitas pemulihan sangat bergantung kepada metode yang dipilih dan masalah yang mendasari. Misalnya, jika seseorang baru melewati periode kerja yang sangat padat, maka mengambil waktu untuk liburan bisa menjadi pilihan untuk memulihkan energi dan beristirahat.
Tapi, jika burnout muncul karena ditempatkan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan keterampilan yang dimiliki, maka solusi yang diperlukan bukan sekadar beristirahat. Seseorang perlu mengembangkan atau mempelajari kemampuan yang dibutuhkan agar dapat menjalankan tugas dengan lebih efektif atau bahkan bernegosiasi dengan perusahaan mengenai kompetensi yang dimiliki.
Pewarta: Sri Dewi LarasatiEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026