Denpasar (Antara Bali) - Jusuf Kalla mengingatkan semua pihak bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak perlu diperdebatkan lagi karena pemerintah sudah mengambil keputusan yang prosesnya memakan waktu hampir dua tahun.

"BBM ini pembicaraan sudah hampir dua tahun, bahkan keputusan menaikkan ini terlalu lambat sehingga mengorbankan anggaran negara untuk hal-hal yang tidak sesuai dan hanya memberikan subsidi bagi pemilik mobil," katanya dalam peluncuran program "JPMI Preneur Audition" di Denpasar, Sabtu malam.

Menurut dia, pemerintah sekarang tinggal memindahkan subsidi atas kenaikan BBM untuk hal-hal yang lebih penting seperti perbaikan infrastruktur, pertanian, kesehatan, beras murah, dan sebagainya untuk masyarakat miskin.

Ia menilai Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang diambil pemerintah sangat penting untuk masyarakat yang kena efek langsung kenaikan BBM. "Sungguh fatal orang yang tidak setuju rakyat miskin dibantu," kata Wakil Presiden periode 2004-2009 itu.

Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar itu juga menilai BLSM tidak bisa dikaitkan dengan urusan politik karena semua rakyat yang berhak akan mendapatkan, tanpa melihat pilihan partai politiknya.

"Saya tidak yakin bahwa rakyat Indonesia dengan uang Rp100 ribu langsung terpengaruh pilihannya. BLSM itu betul-betul membantu," ucapnya.

Kalla menekankan bahwa BBM memang harus naik untuk memindahkan subsidi pada hal lain yang lebih esensi dan tidak berkutat pada persoalan mahal atau tidak.

Pemerintah mulai 22 Juni  2013 pukul 00.00 WIB telah memberlakukan kenaikan harga BBM bersubsidi, premium menjadi Rp6.500 per liter dari sebelumnya Rp4.500 dan solar menjadi Rp5.500 atau naik Rp1.000 dari harga semula.(LHS)


Pewarta: Oleh Ni Luh Rhismawati
Editor : Ni Luh Rhismawati

COPYRIGHT © ANTARA 2026