Denpasar (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menyebutkan debitur sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mendominasi serapan kredit perbankan di Bali per Januari 2026 mencapai Rp61,07 triliun atau 51,19 persen.
“Perekonomian Bali tumbuh bagus, bahkan di atas nasional,” kata Kepala OJK Bali Parjiman di Denpasar, Bali, Jumat.
Regulator lembaga jasa keuangan itu mencatat realisasi kredit UMKM per Januari 2026 itu meningkat 4,39 persen jika dibandingkan periode sama 2025 mencapai Rp58,50 triliun.
Sedangkan berdasarkan kategori debitur, ritel menguasai porsi kedua setelah UMKM dengan menerima kucuran kredit perbankan sebesar 33 persen, disusul korporasi sebesar 14,16 persen dan kredit lainnya sebesar 1,22 persen.
Sementara itu, Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 3 OJK Bali Ni Made Novi Susilowati menambahkan secara keseluruhan perbankan di Pulau Dewata menyuntikkan kredit kepada debitur per Januari 2026 mencapai total Rp119,29 triliun.
Realisasi itu tumbuh 6,92 persen dibandingkan periode sama 2025 mencapai Rp111,56 triliun.
Adapun kualitas kredit debitur di Bali ditinjau dari kredit bermasalah (non performing loan/NPL) mencapai 2,60 persen atau turun dibandingkan 2025 mencapai 3,14 persen.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan mencapai Rp204,33 triliun atau naik 6,66 persen dibandingkan periode sama 2025 mencapai Rp191,56 triliun.
Sedangkan fungsi intermediasi perbankan dari rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) masih tidak banyak mengalami perubahan signifikan.
Per Januari 2026, LDR perbankan di Bali sebesar 58,38 persen atau tumbuh tipis dibandingkan 2025 sebesar 58,24 persen.
Apabila dibandingkan Desember 2024 dan Desember 2025, LDR masih dalam kisaran konservatif yakni 58-59 persen.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026