Denpasar (ANTARA) - Pemerintah Kota Denpasar berkomitmen untuk mewujudkan daerah itu sebagai kota yang inklusif dengan memberikan ruang yang setara bagi komunitas penyandang disabilitas.
Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa di Denpasar, Kamis, menyatakan salah satu upaya mewujudkan ruang yang setara adalah dengan menggelar pertunjukan seni budaya bertajuk Utsawa Dharma Gita Penyandang Disabilitas di Gedung Santi Graha
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-238 Kota Denpasar serta memberikan ruang ekspresi dan partisipasi yang setara bagi penyandang disabilitas dalam kegiatan seni, budaya, dan keagamaan sebagai wujud masyarakat inklusif.
Menurut dia, Utsawa Dharma Gita bukan sekadar ajang perlombaan seni dan sarana pelestarian budaya Bali, namun juga menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam membangun masyarakat yang inklusif.
Setiap individu, termasuk penyandang disabilitas, kata dia, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, berkarya, dan berprestasi.
“Kami percaya keterbatasan bukanlah penghalang untuk menunjukkan kemampuan dan dedikasi. Melalui kegiatan ini, kita menyaksikan bahwa semangat, ketulusan, dan kekuatan jiwa para peserta merupakan inspirasi bagi kita semua untuk terus menjaga nilai kebersamaan, empati, dan saling menghargai,” ujarnya.
Arya Wibawa berharap kecintaan terhadap Dharma Gita semakin kuat serta semangat kebersamaan dan toleransi terus terjaga dalam kehidupan bermasyarakat di Kota Denpasar.
Sementara itu, ketua panitia sekaligus Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Denpasar A.A Ayu Diah Kurniawati mengatakan kegiatan pentas seni itu bertujuan mengembangkan potensi, bakat, dan kreativitas penyandang disabilitas di bidang seni dan budaya Bali.
Selain itu, kegiatan ini juga untuk melestarikan dan menumbuhkan kecintaan terhadap seni Dharma Gita sebagai bagian dari warisan budaya dan tradisi spiritual Hindu Bali, serta mewujudkan Denpasar sebagai kota ramah disabilitas yang menjunjung tinggi kesetaraan, kebersamaan, dan nilai kemanusiaan.
Ia menjelaskan, kegiatan yang berlangsung selama sehari ini diisi dengan berbagai lomba, di antaranya lomba macepat (tembang tradisional Bali) remaja yang diikuti tujuh peserta perwakilan siswa dari SLB Negeri 1 dan SLB Negeri 3 Denpasar.
Selain itu, digelar pula lomba macepat dewasa yang diikuti sepuluh peserta dari DPC Pertuni Kota Denpasar dan DPC HWDI Kota Denpasar.
Pewarta: Rolandus NampuEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026