Denpasar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menjadikan peristiwa banjir besar September lalu sebagai pembelajaran untuk mengantisipasi mulainya musim hujan akhir tahun ini.
“Peristiwa banjir September lalu harus kita jadikan pembelajaran kesiapsiagaan, saat itu curah hujan yang turun mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya bahkan ketika itu Bali belum memasuki musim hujan jadi ke depan situasi serupa tidak mustahil bisa terulang kembali,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Bali Dewa Made Indra.
Untuk itu Pemprov Bali melakukan gelar apel kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi di Denpasar, Selasa, dimana selain memastikan koordinasi lintas lembaga, Sekda Bali turut memeriksa kesiapan alutsista ketika terjadi bencana.
Tujuannya ketika terjadi bencana dalam eskalasi besar seperti banjir besar lalu, seluruh elemen siap dan ketika mendapat informasi bencana dapat merespons dengan cepat demi memberi perlindungan kepada masyarakat.
“Tadi saya sudah melihat dan memeriksa kekuatan personel dari berbagai komponen sampai dengan peralatan, kendaraan operasional, hingga logistik, menurut saya semua sudah berada dalam kondisi baik,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya menambahkan mereka sudah memetakan daerah rawan bencana hidrometeorologi, bahkan bencana seperti tanah longsor juga berpotensi terjadi di Kota Denpasar meski tidak ada tebing.
Untuk itu ia mengajak seluruh masyarakat mengenal potensi di wilayahnya masing-masing, beberapa bencana yang mungkin mengancam seperti tanah longsor, banjir, dan pohon tumbang.
Pada musim hujan ini, Pemprov Bali juga dihadapkan dengan momentum libur Natal dan Tahun Baru 2026, dimana pergerakan masyarakat dan wisatawan akan padat sehingga antisipasi juga dilakukan di titik-titik tertentu.
“Kalau kaitannya Nataru, berarti di jalur-jalur pariwisata, jalur-jalur transportasi, akses jalan transportasi, kemudian di tingkat kemiringan, pegunungan-pegunungan, tingkat kemiringan itu tidak mesti pegunungan,” kata Gede Teja.
Pada daerah awan bencana, BPBD Bali mengidentifikasi terdapat 14 jenis bencana, dengan sembilan diantaranya berisiko tinggi.
Musim hujan sendiri di proyeksi berlangsung hingga April 2026 dengan puncaknya Februari mendatang, namun melihat hujan ekstrem yang menyebabkan banjir besar September lalu, Gede Teja meminta tetap waspada sebab tidak bisa diprediksi waktunya.
“Hujan ekstrem itu yang belum ada prediksi, hujan ekstrem adalah hujan yang di atas 150 mm per hari, seperti September lalu hujannya 380 dan 390 mm dan tiga kali sepanjang itu,” kata dia.
