Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster menilai The 10th World Congress of Long Yan People atau kongres yang menyatukan warga Long Yan, Tiongkok, dari mancanegara merupakan jembatan pertukaran budaya.
"Kegiatan ini bentuk nyata dari semangat pelestarian nilai-nilai seni dan budaya yang luhur, serta komitmen untuk memperkuat hubungan antar-bangsa melalui jalur diplomasi budaya, menjadi jembatan antara masyarakat Long Yan dari berbagai negara terutama di Provinsi Bali-Indonesia,” kata dia.
Koster dalam keterangan di Denpasar, Sabtu, menyampaikan melalui seni dan budaya pula, pesan perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan dapat disampaikan kepada dunia.
“Hal ini sejalan dengan semangat masyarakat Long Yan yang menjunjung tinggi nilai tradisi, kesadaran dan kebersamaan di tengah tantangan globalisasi ini,” ujarnya.
Kongres ini sendiri diwarnai dengan kegiatan pertukaran budaya, mempertemukan seniman dan budayawan dari berbagai latar belakang untuk saling memahami dan menghormati.
Dipilihnya Bali sebagai lokasi juga menurut dia membuktikan bahwa vibrasi Bali sebagai destinasi perdamaian dunia memberi keyakinan banyak pihak untuk terus membangun rasa solidaritas, dan persaudaraan yang erat antar-negara, antar-daerah dan antar-suku.
Gubernur Bali turut memberi pandangan, dimana di tengah era digital saat ini, pelestarian budaya tidak bisa dilakukan dengan cara konvensional saja, oleh karena itu wajib untuk mendorong generasi muda mempelajari, mengapresiasi dan mengadaptasi budaya dalam bentuk kreativitas dan moderenisasi.
“Pertukaran seni dan budaya seperti ini harus menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk memperluas wawasan, membangun jejaring dan menumbuhkan rasa bangga terhadap seni dan budaya yang dimilikinya,” kata dia.
Dengan begitu, maka generasi muda tidak hanya menjadi penonton, namun dapat menjadi pelaku dan pewaris budaya yang aktif, kreatif dan meneruskan warisan leluhur.
Pemprov Bali sendiri mengakui selama ini mengagumi China, bahkan dalam kegiatan ini Gubernur Koster hadir dengan baju tenun endek khas Bali namun berwarna merah ciri khas warga Tiongkok.
Seperti halnya Bali, China memiliki peradaban budaya yang sangat kuat, tampil dalam berbagai bentuk, terutama aksaranya aktif dipakai dalam berbagai sektor dan aktivitas.
"Saya sangat mengetahui bahwa dengan peradaban yang kuat, maka China akan menjadi negara yang kuat dan besar di dunia, dan China merupakan negara maju yang didukung dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dikenal oleh masyarakat luas,” kata Koster
Oleh karena itu Pemprov Bali terbuka untuk bekerja sama dalam bidang kebudayaan, sebab dengan kerja sama berkesinambungan, nilai-nilai luhur budaya tidak hanya mampu bertahan, tetapi tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
“Ke depan, Yayasan Paguyuban Warga Long Yan Jakarta diharapkan dapat terus bersinergi dengan instansi pemerintah, lembaga pendidikan dan bahkan komunitas seni untuk mengembangkan program-program seperti festival budaya tahunan yang berskala internasional, pertukaran pelajar dan seniman antar negara, pameran lokakarya budaya serta program pelatihan dan pengembangan ekonomi berbasis budaya,” ujar Koster.
