Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan akan menemui sejumlah tokoh Muslim untuk membahas kejadian pelanggaran selama Hari Suci Nyepi yang berlangsung Sabtu (29/3).
Koster di Denpasar, Rabu, menyadari masih terjadi pelanggaran di masyarakat seperti beraktivitas di luar rumah, salah satunya kejadian di Loloan Timur dan Loloan Barat, Jembrana.
“Soal Loloan, nanti beberapa hari ke depan biar lewat dulu Idul Fitri saya akan bertemu dengan Majelis Ulama Indonesia, tokoh-tokoh Umat Muslim yang ada di NU dan Muhammadiyah,” kata dia.
Diketahui saat Hari Suci Nyepi yang semestinya seluruh masyarakat Bali tidak beraktivitas di luar rumah selama 24 jam justru di Loloan Jembrana terjadi sebaliknya.
Pelanggaran Nyepi itu viral di media sosial yang menunjukkan masyarakat Loloan beraktivitas seperti biasa di luar rumah, bahkan bersepeda, berkendara motor, hingga berjualan.
Baca juga: Polres Jembrana tangkap oknum anggotanya diduga langgar saat Nyepi
Warga Muslim di Loloan sendiri merupakan warga asli Bugis yang menurut Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan adalah penduduk yang telah lama menetap di Jembrana bukan pendatang dari Jawa.
Tak ada permakluman, Gubernur Koster menilai tindakan melanggar Nyepi ini tidak pantas dilakukan.
Oleh karena itu pertemuan dengan tokoh Muslim akan dilakukan, termasuk organisasi lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu agar tidak mengulang kejadian serupa tahun berikutnya.
“Tentu harus menyikapi dengan cara yang baik agar tidak menimbulkan persoalan, jangan sampai menyelesaikan masalah malah menimbulkan masalah baru,” kata Gubernur Bali.
Selain urusan pelanggaran Nyepi, Koster juga tak ingin tergesa-gesa dalam penindakan terhadap penduduk pendatang, salah satunya di momentum arus balik Idul Fitri.
Untuk mengantisipasi masuknya penduduk pendatang yang berpotensi melakukan pelanggaran di Bali, ia akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait.
Baca juga: Sejumlah umat Muslim di Bali tarawih terakhir di tengah Nyepi