"Perlu ada klinik-klinik untuk remaja untuk membahas mengenai gizi maupun kesehatan reproduksi, untuk mencegah kehamilan di usia muda," ujar Menkes ketika memberikan sambutan dalam Seminar Gizi Nasional "Mewujudkan Gizi Seimbang untuk Mengatasi Masalah Gizi Ganda"
Selain kehamilan pada usia terlalu muda, permasalahan gizi lain pada remaja disebut Menkes adalah kecenderungan remaja untuk mengurangi berat badan demi memiliki bentuk badan langsing seperti bintang film idola mereka.
Namun dari segi kesehatan, memiliki badan terlalu kurus akan berakibat kepada kekurangan gizi yang akan berdampak negatif pada fungsi reproduksi remaja yang bersangkutan.
"Jika remaja lebih suka langsing, apa dampaknya nanti kalau dia hamil dan menyusui? Jadi mari kita konsen pada remaja," ujar Menkes.
Kekurangan gizi pada saat hamil dapat menyebabkan banyak gangguan dan berakibat fatal bagi kesehatan ibu dan bayi seperti kelahiran prematur, berat badan kurang maupun bayi mengalami cacat bawaan.
Sementara itu, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2012 lalu menunjukkan adanya peningkatan jumlah kehamilan pada remaja usia 15-19 tahun menjadi 48 per 1.000, naik dari SKDI 2007 sebesar 35 per 1.000.
Sedangkan target pemerintah adalah menurunkan tingkat kehamilan remaja menjadi hanya 30 per 1.000 orang. (LHS/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026