Denpasar (Antara Bali) - Sebuah pementasan Sendratari Ramayana yang disajikan mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia Denpasar di Convention Exhibition Centre, Perth, Australia, belum lama ini, diyakini mampu mengangkat citra Indonesia di dunia internasional.
Sebanyak 43 mahasiswa dan dosen lembaga pendidikan tinggi seni, termasuk dua pemantau dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyuguhkan sebuah pementasan yang mampu menggugah sekitar 1.500 orang penonton setempat yang puluhan orang di antaranya adalah warga Indonesia.
ISI Denpasar mengadakan kunjungan ke Edith Cowan University (ECU) Australia untuk meningkatkan hubungan kerja sama dan saling menguntungkan antara ISI dan ECU, Australia baru-baru ini, tutur Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S,MA.
Seusai pementasan, para penonton yang berasal dari Indonesia merangsek ke depan panggung mengungkapkan rasa haru dan bangganya. "Saya dari Medan, Sumatera, Indonesia hebat," ujarnya lugas.
"Om suastyastu", ujar sekelompak penonton dari Bali yang sudah puluhan tahun bermukim di Australia naik ke atas panggung, mengungkapkan kegirangannya dapat menyaksikan penampilan para seniman Puilau Dewata di Negeri Kangguru itu.
Desak Sukerni, 56 tahun, asal Kuta, Kabupaten Badung yang sudah puluhan tahun menetap di Australia mengaku sangat senang menyaksikan penampilan kesenian Bali.
Tentu, kehadiran sekelompok seniman dari Pulau Dewata di Australia itu bukan hanya menjadi ajang melepas rindu bagi masyarakat Indonesia di sana.
Dalam setiap penampilan di empat tempat yang berbeda, sajian Sendratari Ramayama yang disertai pula dengan pergelaran tari Nusantara seperti Selat Segara dan Jauk (Bali), Rantak (Sumatra) dan Pakerana (Sulawesi), penonton memberikan apresiasi yang tinggi.
Puncaknya, saat pentas di Convention Hall Perth itu, dihadiri Menteri Multikultural Negara Bagian Western Australia, John Castrilli. Dalam pidatonya sebelum pementasan, Castrilli meyambut hangat atas kunjungan pentas para seniman Bali.
Sesuai pergelaran yang diikuti seksama seluruh penonton, Castrilli memberikan pujian yang tinggi atas pementasan Sendratari Ramayana para seniman yang menurut dia memiliki kualitas mengagumkan.
Kekaguman yang disampaikan Castrilli kiranya bukan sekadar basa-basi. Sejak pementasan pertama di kota Mandurah, sekitar 150 km arah selatan dari kota Perth, kehadiran tim kesenian dari Bali tersebut disambut antusias penonton setempat.
Seusai pementasan di kota itu, seorang penonton yang nomor tiketnya keluar sebagai pemenang undian berwisata ke Bali, girang bukan kepalang sembari naik ke atas panggung mohon diizinkan berfoto dengan tim kesenian Bali.
Jajaran pejabat kota setempat yang juga hadir saat pementasan itu menurut Prof Rai mengungkapkan keinginannya menjalin kerja sama kebudayaan dengan Indonesia, khususnya dalam bidang seni.
Jagat seni rupanya diapresiasi tinggi masyarakat Perth. Gubernur Negara Bagian Western Australia, Collin Barnett, secara khusus menyaksikan penampilan para seniman Bali pada acara yang digelar di kompleks kediaman resmi pejabat bersangkutan.
Sajian gamelan Bali dalam gedung mengusik perhatian Barnett. Kepada Konsulat Jenderal Indonesia di Perth, E.D Syarief Syamsuri, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap gamelan Bali itu.
Ketika Syamsuri menginformasikan gamelan Gong Kebyar itu adalah milik University of Western Australia (UWA) yang baru didatangkan dari Bali, gubernur sumeringah dan berharap mahasiswa dan masyarakat Perth dapat lebih menyelami Indonesia melalui dunia seni.
Muhibah seni Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar di Perth yang didukung penuh oleh Direktoral Jenjeral Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, memang bertujuan menyamakan pemahaman masyarakat Australia pada umumnya terhadap Indonesia.
"Hubungan dari hati ke hari melalui komunikasi seni saling memuliakan kemanusiaan kedua belah pihak," ujar Prof Wayan Rai seusai pementasan di panggung terbuka UWA.
Simak saja tambah Wayan Rai, betapa mesranya penonton berbaur dengan para seniman Bali, foto bersama, berkenalan, dan tak sedikit penonton yang menanyakan lebih jauh tentang seni tari dan gamelan Bali.
Kini dengan dimilikinya seperangkat gamelan Bali oleh UWA dan mungkin juga menyusul universitas lainnya, Prof Rai berharap, keberadaan gamelan Bali di mancanegara tidak hanya menyebar di Amerika, Eropa dan Jepang, namun juga di benua Australia.
Tonggak Diplomasi
Harapan Rektor ISI Denpasar itu juga menjadi harapan perwakilan RI di Perth. Bahkan, penampilan Sendratari Ramayana para seniman Bali itu, menurut Konsul Jenderal RI Syarief Syamsuri, menjadi tonggak penting diplomasi kebudayaan Indonesia dalam rangka memperkaya dan lebih mendekatkan hubungan sosial-budaya Indonesia dan Australia.
Sukses yang diukir tim kesenian ISI Denpasar, ungkap Syahri Sakidin, konsul dan kepala informasi KJRI Perth, merupakan salah satu media yang tepat untuk lebih meningkatkan pengertian dan penghargaan masyarakat Australia terhadap kekayaan budaya bangsa Indonesia.
"Potensi kesenian, sudah seharusnya kita unggulkan sebagai media diplomasi kebudayaan yang andal," kata Sakidin.
Harkat dan martabat sebuah bangsa sering diukur dari ekspresi seninya. Kesenian memang telah diklaim berkontribusi besar terhadap pencitraan wajah budaya bangsa, tutur Kadek Suartaya, S,S.Kar, M.Si, dosen ISI yang bertindak sebagai pengarah dalam pementasan tersebut.
Oleh sebab itu, dalam konteks menjalin hubungan antarbangsa, seni sering ditempatkan sebagai alat komunikasi diplomasi budaya yang tak kalah pentingnya dengan diplomasi bidang lainnya.
Bahkan diplomasi melalui pendekatan seni budaya hasilnya sering jauh lebih jitu dibandingkan dengan, misalnya, formalitas diplomasi politik. Lewat lawatan-lawatan seni antarnegara. Sejak dulu, resmi atau tak resmi, menyemai pemahaman dan saling pengertian antar bangsa.
"Khusus bagi masyarakat Indonesia di Australia, sajian seni yang begitu apik dan menawan Sendratari Ramayana yang dipentaskan di kota Perth dan sekitarnya oleh para seniman Bali, sungguh memberikan kebanggaan pada keindonesiaan kita, kita menjadi bangga menjadi orang Indonesia," ungkap seorang pengusaha hotel asal Surabaya yang kini menjadi general manager Kings Perth Hotel. (*/ADT/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.