Denpasar (Antara Bali) - Pameran Biennale Pita Prada yang baru pertama kali digelar secara serentak oleh tiga museum swasta di perkampungan seniman Ubud, Bali, dimaksudkan sebagai upaya memberikan penegasan kepada masyarakat seni rupa nasional dan internasional.

"Penegasan tersebut menyangkut seni lukis tradisional Bali yang adalah sebuah komunitas besar, yang di dalamnya menyimpan pertumbuhan," kata Direktur Museum Arma Ubud, Anak Agung Rai didampingi pemilik Museum Neka Ubud, Pande Wayan Suteja Neka di Ubud Rabu.

Ia mengatakan, pertumbuhan seni lukis tradisional Bali disertai dengan perkembangan yang menyimpan fenomena tersendiri, bahkan sejajar dengan seni lukis modern atau kontemporer di sejumlah negara.

"Fenomena yang muncul dari perkembangan seni lukis tradisional Bali itulah yang penting untuk diketahui oleh masyarakat luas," ujar Agung Rai.

Oleh sebab itu, kata dia, dalam Pita Prada ditampilkan hasil kreasi seniman tradisional Bali angkatan tahun 1980-an hingga tahun 2000. Mereka tampil mewakili semua marshab seni lukis di Bali.

Agung Rai menjelaskan, dalam perkembangan seni lukis tradisional muncul marshab Sanur, Nagasepha, yang mewakili corak lukisan Bali Utara, serta marshab Kamasan, Kabupaten Klungkung, marshab Batuan, Ubud (Kabupaten Gianyar) dan marshab Kapal (Kabupaten Badung).

Dalam perkembangannya, marshab Ubud membagi diri dalam beberapa submarshab antara lain submarshab Kutuh, Keliki, Taman, Tebesaya, Padang Tegal, Pengosekan dan Penestan yang melahirkan aliran besar Young Artist.

Dalam perkembangan seni tersebut melahirkan tokoh-tokoh legendaris antara lain Anak Agung Gede Sobrat, I Gusti Ketut Kebot, Ida Bagus Made Widja, Ida Bagus Made Poleng dan I Gusti Putu Mokoh.

Selain itu juga mencetak pelukis buda belia yang prospeknya sangat menjanjikan, antara lain Made Sunarta, Wayan Beneh, Nyoman Sarna, I Gusti Agung Wiranata dan Ni Made Nyangkih.

Sekitar 180 lukisan karya mereka ditampilkan secara serentak pada biennale di tiga museum perkampungan seniman Ubud selama sebulan, 11 Desember 2009 hingga 11 Januari 2010, tutur Anak Agung Rai. (*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026