Sejak sebulan terakhir para pedagang lampu bertenaga batrei listrik itu sampai kewalahan melayani permintaan. Mereka dengan mudah dapat ditemui berjualan di jalan-jalan di Denpasar, khususnya di sekitar lokasi yang mendapat giliran pemadaman listrik.
"Sehari saya bisa laku 10 lampu. Untungnya antara Rp150 ribu hingga Rp400 ribu semalam," aku Udin, pedagang asal Lombok, di Denpasar, Selasa.
Disebutkan Udin, bersama teman-temannya, ia membawa lampu darurat yang biasa disebut juga lampu LED, dengan ukuran daya voltase terendah 20 watt hingga yang berdaya 600 watt.
Untuk ukuran 20 Watt dijual dengan harga Rp75 ribu sedangkan lampu berdaya tinggi hingga 600 Watt dijual dengan harga Rp150 ribu. Untuk lampu berdaya 20 Watt bisa menyala hingga lima jam, sedang untuk 600 watt bisa tahan sampai delapan jam.
Biasanya ia mengambil keuntungan untuk setiap satu lampunya antara Rp15 ribu hingga Rp50 ribu, namun tetap saja harganya bersifat fleksibel. Artinya, berlaku sistem tawar menawar.
"Asal dapat untung ya kita jual, yang pasti syukurlah kami bisa mendapat untung dari penjualan lampu LED," kata pria yang tinggal di jalan Gunung Soputan, Denpasar ini.
Diakuinya, warga kota Denpasar dan sekitarnya menyukai lampu jenis ini karena relatif praktis dan harganya terjangkau. Pemakaian lampu ini, juga mudah cukup pengisian batrei yang dicharge dengan listrik.
Udin mengaku punya strategi tersendiri untuk menjemput konsumen pemakai lampu yakni setiap hari rajin membaca koran lokal, dimana segala informasi terkait lokasi pemadaman listrik selalu diinformasikan.
Tak heran jika Udin dan empat temannya asal Lombok yang sama-sama menjual lampu buatan sebuah pabrik di Surabaya, Jatim ini pergi dimana lokasi pemadaman listrik. Biasanya kata Udin, dirinya sudah mangkal di jalanan mulai pukul 16.00 Wita hingga pukul 21.00 Wita. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026