"Tidak bisa dimungkiri, selama ini masyarakat desa selalu berpikir cepat bantuan diarahkan untuk proyek fisik seperti membangun gedung kepala desa, gedung serbaguna hingga memperbaiki pura. Hal ini sudah menjadi semacam paradigma," kata Wisnumurti, di Denpasar, Kamis.
Ia menyampaikan, kondisi itupun dijumpai saat dirinya bersama tim dari Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Provinsi Bali mengunjungi lima desa di Pulau Dewata yang akan menjadi proyek percontohan program Gerbang Sadu Mandara.
Tiap desa penerima program merupakan desa dengan tingkat kemiskinan di atas 35 persen, berhak mendapatkan bantuan masing-masing Rp1 miliar dari Pemprov Bali pada tahun ini.
"Oleh karena itulah, tetap diperlukan pendampingan dalam pelaksanaan program, walaupun nafasnya pemberdayaan masyarakat. Pendamping atau fasilitator dapat membantu masyarakat untuk merumuskan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat miskin dan bukan daftar keinginan mereka," ucap Wisnumurti yang beberapa kali telah menjadi koordinator tim pendamping dalam program-program pemberdayaan desa di Bali itu.(LHS)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.