Saat ditemui Jumat, Wastika mengatakan, saat kejadian tidak ada orang di dalam rumah berdinding gedek tersebut.
Wastika yang saat itu sedang berada di rumah satunya yang berdekatan mendengar suara gemuruh dan langsung lari keluar.
"Saya sempat masuk ke dalam kamar rumah yang roboh ini dan mengeluarkan televisi," katanya.
Beberapa saat setelah Wastika keluar, angin kencang datang membuat rumah itu roboh seketika.
Menurut Wastika, angin datang dari arah belakang rumahnya dengan pola melingkar kencang.
Atas bencana ini, ia mengaku hanya bisa pasrah karena tanggungan ekonominya cukup berat setelah anaknya yang tertua sakit-sakitan.
Selain Wastika, angin kencang juga menyebabkan pohon kelapa setinggi 35 meter roboh dan menimpa rumah I Made Suartika, di Dusun Berawantangi, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya.
Pohon kelapa yang roboh itu juga menimpa sepeda motor milik korban, dan Ni Made Ariati, istri Suartika mengalami patah tulang tangan kiri.
"Saat pohon kelapa itu roboh, istri saya terlambat lari dan tertimpa tiang utama atap rumah," kata Suartika.
Angin yang mengamuk di beberapa wilayah Kabupaten Jembrana juga menyebabkan tower J-Net di SDN 5 Batu Agung roboh menimpa atap sekolah hingga rusak. (gis/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.