Kasek SMPN 2 Mendoyo, Ni Luh Warsini saat ditemui di Mendoyo, Rabu mengatakan, dirinya diberitahu tower yang roboh akibat angin kencang tersebut pada Selasa (29/3) tersebut oleh penjaga sekolah.
"Saat itu penjaga sekolah kami sedang memperbaiki keramik ruang sekolah. Beruntung saat kejadian tidak ada orang di ruangan tersebut," katanya.
Angin kencang memutuskan tali penahan tower yang diduga memang sudah aus tersebut. Meski sudah dibersihkan, tampak masih ada sisa-sisa pecahan genting di ruangan Warsini. Selain itu plafon ruangannya juga jebol di beberapa bagian.
Menurut Warsini, pihaknya sebenarnya sudah berencana untuk memperbaiki tower J-Net tersebut. Namun ia mengakui, sudah sekitar enam bulan terakhir jaringan J-Net milik sekolah itu tidak berfungsi.
"Rencananya selain perawatan untuk tower, kami juga akan hidupkan lagi jaringan J-Net nya, tapi karena sudah roboh lebih baik tower ini kami bongkar seluruhnya," katanya.
Ketua Komite SMPN 2 Mendoyo I Gusti Agung Sudanayasa juga sepakat dengan Warsini untuk membongkar total tower J-Net tersebut. "Daripada tidak bermanfaat dan malah membahayakan, lebih baik dibongkar saja," katanya.
Sudanayasa juga mengungkapkan, saat ini 85 persen jaringan J-Net di Kecamatan Mendoyo tidak berfungsi bahkan banyak yang sudah rusak.
Hal tersebut diakui oleh Camat Mendoyo I Nengah Ledang yang datang ke lokasi SMP di Desa Pohsanten tersebut.
"Banyak yang sudah tidak berfungsi, kalau memang kondisinya membahayakan lebih baik diturunkan saja," katanya.
Jimbarwana Network atau J-Net adalah program yang digagas oleh Pemkab Jembrana semasa pemerintahan Bupati Winasa.
Saat itu seluruh sekolah mulai dari SD sampai SMA hingga kantor desa, kelurahan dan kecamatan harus memasang jaringan J-Net.
Saat sosialisasi program itu, Winasa mengatakan, dengan J-Net aparat di desa tidak perlu lagi membawa berkas-berkas saat mengurus sesuatu ke pemkab.
"Cukup lewat email saja sehingga biaya pengeluaran kertas dan operasional bisa ditekan," kata Winasa kala itu.
Sayangnya, program ini tidak bisa berjalan maksimal. Aparat di desa tetap saja harus datang dengan membawa berkas-berkas ke pemkab saat mengurus sesuatu. Selain itu, saat ini jaringan J-Net tersebut tidak berfungsi. Bahkan tower-tower yang didirikan sudah mulai keropos dan sangat membahayakan jika roboh. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.