Gianyar, Bali (ANTARA) - BaliSpirit Festival 2019, yang sudah masuk lima besar acara yoga dunia, ternyata ada kegiatan kampanye anti perang dengan contoh kasus perang di Vietnam sebagai salah satu perang  paling brutal yang pernah terjadi di dunia karena sekitar 3 juta orang meninggal, bahkan dampaknya masih dirasakan hingga kini dengan banyaknya anak yang lahir cacat akibat bom kimia.

"Kami menjadikan Bali yang pertama kali, khususnya BaliSpirit 2019, sebagai tempat mengkampanyekan kekejaman perang. Kampanye anti perang sekaligus kampanye perdamaian dunia," kata Dean Rosenwuld, seorang warga negara bagian California, Amerika, di Gianyar, Jumat.

Dalam kampanye perdamaian dan menolak peperangan, Dean menceritakan perang di Vietnam antara 1957 dan 1975, dimana Amerika, negaranya, terlibat dalam peperangan itu, mendukung pemerintahan Vietnam Selatan melawan Vietnam Utara yang didukung China dan Uni Soviet.

Untuk menumpas tentara Vietkong (Vietnam Utara) yang bersembunyi di hutan lebat dan lorong-lorong bawah tanah, pemerintah Amerika gunakan senjata kimia untuk membumihanguskan hutan dan semua tanamannya dengan yang senjata kimia yang dinamakan "Agent Orange".

"Celakanya, pemerintah Amerika tidak memberitahu tentaranya sendiri akan menjatuhkan bom kimia agent orange untuk menghancurkan hutan beserta tanamannya. Angkatan Udara Amerika menjatuhkan bom kimia sebanyak 20 juta galon (drum) yang kemudian  masuk  ke dalam DNA dan merusaknya, berdampak kepada penyakit dan membuat cacat fisik kepada anak-anak tentara Amerika dan juga Vietnam," ungkap Dean.

Kisah Dean membantu anak-anak korban bom kimia di Vietnam berawal dari perjalanan wisatanya pada awal tahun 2017. "Saya  melakukan perjalanan wisata ke Asia. Dalam perjalanan saya, saya mengunjungi Bali, Kamboja, dan Vietnam. Vietnam adalah tempat yang luar biasa penuh dengan pemandangan indah - pegunungan, ceruk laut, kanal, dan geografi yang lebih mencolok. Di Utara, Teluk Ha Long sangat indah untuk dilihat," katanya.

Di Selatan, Dean melihat ibu kota Saigon, yang sekarang berganti nama menjadi Ho Chi Minh dan di dalamnya, Museum Sisa Perang yang terkenal di dunia. Pergi ke Museum Sisa-sisa Perang, saya memiliki pengetahuan terbatas tentang Perang Vietnam. "Di sanalah saya menemukan korban bom kimia pada anak-anak. Ada yang matanya bolong, ada yang kakinya lumpuh. Sangat menyedihkan sekali karena perang itu sudah lebih 40 tahun lalu," katanya.

Ia langsung mengeluarkan uang untuk membantu para anak-anak yang menjadi korban bom kimia dan perang saudara di Vietnam. Ia kemudian mendatangi yayasan An Phuc yang mengkoordinir penggalangan dana untuk korban perang.

Di Amerika sendiri, pemerintah telah banyak mengalokasikan dana untuk anak-anak tentara Amerika yang berperang di Vietnam kemudian menderita cacat fisik dan kena penyakit akibat terkontaminasi bom kimia. Tapi, Amerika tidak alokasikan dana untuk korban anak-anak di Vietnam.

"Setelah pulang ke Amerika dari wisatanya ke Asia, Dean menggalang dana untuk membantu yayasan An Phuc di Vietnam. Kami juga berikan dana langsung ke rumah sakit yang merawat anak-anak korban perang. Saya juga kemudian mendirikan organizasi An Phuc di Amerika sebagai organisasi internasional untuk penggalangan dana," tambah dia.

Ia juga merencanakan untuk sosialisasi dan kampanyekan betapa jahatnya perang. Ia akan membawa korban perang dan bom kimia ke sekolah-sekolah di Amerika untuk menyadarkan betapa bahaya dan kejamnya perang serta kampanye perdamaian. 

"Jadi saya bicara di BaliSpirit ini adalah untuk membangun kesadaran bersama betapa bahayanya perang dan bom kimia. Mari kita sama-sama kampanyekan perdamaian. Itu tujuan yang utama tapi jika mau memberikan donasi silahkan," kata Dean.

 

Pewarta: Adi Lazuardi
Editor : I Komang Suparta

COPYRIGHT © ANTARA 2026