Denpasar (Antara Bali) - Dalam keadaan kesurupan, tak sadarkan diri, puluhan penari keris itu menikam dadanya sambil menjerit historis. Adegan tegang itu merupakan bagian dari pementasan atraksi wisata tari barong dan keris di kawasan Batubulan, Kabupaten Gianyar.
Aktivitas seni budaya dan ritual keagamaan mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat di Pulau Dewata. Lewat aktivitas seni budaya dan ritual itulah menjadi salah satu daya tarik wisatawan mancanegara berkunjung ke Pulau Dewata.
Lewat atraksi seni budaya dan keindahan panorama alam tersebut menjadikan turis dapat menemukan nuansa baru, sehingga kehadirannya secara berulang-ulang ke Bali itu tidak pernah menjenuhnya, karena selalu dalam kemasan baru yang menyenangkan, yang tidak dapat mereka temui di daerah lainnya.
Bahkan Miguel Covarrubias, seniman dan antropolog kelahiran Meksiko sekaligus penulis buku "Island of Bali" yang memperkenalkan Bali kepada dunia barat tahun 1930 itu, mengagumi masyarakat Bali sebagai orang-orang berbakat seni.
Stimulasi estetis seni itu terekspresi dalam segala aspek kehidupan. Emosi berkesenian membumbung dalam ritus keagamaan, tutur Kadek Suartaya, SS Kar, M.Si, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang juga pelaku seni di Pulau Dewata.
Khasanah seni tradisi Bali ibarat sumber mata air yang mengalirkan dahaga berkreasi dalam menggali, mengembangkan dan melestarikan seni budaya Bali.
Pengembangan kesenian Bali itu berorientasi pada nilai-nilai estetika dan konsep artistik dari kesenian tradisi yang telah teruji dalam perkembangan zaman.
Tari gambuh misalnya yang bertransformasi menjadi tari arja dan legong mampu melahirkan beragam bentuk, sehingga mampu mengembangkan dan memperkaya nilai-nilai tradisi Bali hingga dikenal ke penjuru dunia.
Pemerintah Provinsi Bali menyadari peran strategis para seniman untuk menggali, mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya dengan sepenuhnya pengabdikan diri demi kokoh dan lestarikan seni budaya di tengah gempuran budaya global.
Pemprov Bali mempunyai komitmen tinggi terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya dengan memberikan seni Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dalam bidang seni, kepada seniman yang dinilai berjasa dan berprestasi menonjol terhadap pengembangan dan pelestarian seni budaya Bali.
Penghargaan bergengsi bagi seniman Bali itu tertuang dalam Peraturan Daerah Perda) pemerintah provinsi Bali Nomor 11 Tahun 1992, namun penghargaan Dharma Kusuma itu telah diberikan sejak tahun 1974, atau 37 tahun yang silam.
Lencana emas
Penghargaan tertinggi dalam bidang seni yang bergengsi itu berupa piagam penghargaan dan lencana emas 20 gram serta yang tunai diberikan kepada seniman dari seluruh cabang seni, termasuk budayawan itu melalui seleksi yang sangat ketat, guna mengetahui tingkat pengabdian dan prestasi yang menonjol dalam bidang seni.
Pemerintah Provinsi Bali menurut Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Ketut Suastika membentuk satu tim beranggotakan dari instansi terkait untuk menyeleksi seniman dan budayawan yang diusulkan oleh delapan kabupaten dan satu kota di Bali untuk memperoleh Dharma Kusuma.
Seleksi dan penghargaan Dharma Kusuma itu penting dilakukan sebagai upaya menumbuhkan daya kreativitas masyarakat, khususnya budayawan dan seniman untuk lebih memacu prestasi dalam bidang seni, yang pada gilirannya berdampak positif terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat di Pulau Dewata.
Selain itu sebagai sebuah pengakuan, sekaligus motivasi pembinaan dan melestarikan nilai budaya daerah secara berkesinambungan yang pada gilirannya dapat menumbuh daya kreativitas masyarakat, khususnya seniman.
Penghargaan yang diberikan secara berkesinambungan bertepatan dengan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Pemerintah provinsi Bali hingga kini tercatat 413 orang penerima selama kurun waktu 1974-2011.
Ratusan penerima Dharma Kusuma itu adalah putra-putra terbaik Bali, maupun warga negara asing yang telah mengabdikan dirinya untuk kemajuan dan pengembangan seni budaya Bali, yang menjadi puncak-puncak kebudayaan nasional.
Di antara penerima Dharma Kusuma adalah Grup Sekar Jaya Amerika Serikat, grup kesenian Sekar Jepun Jepang, Urs Ramsenyer, budayawan asal Basel, Swiss serta budayawan dan mantan Gubernur Bali, Prof Dr Ida Bagus Mantra (alm).
Selain itu mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Prof Dr I Made Bandem, Pemilik Museum Seni Lukis Klasik Bali, Drs Nyoman Gunarsa dan seniman terbaik dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali.
Peranserta warga negara asing dalam pengembangan dan pelestarian seni budaya Bali mampu memberi warna terhadap keragaman budaya di dunia internasional, sekaligus memotivasi generasi muda sebagai pewaris dan penerus budaya bangsa.
Bertepatan dengan HUT ke-53 Pemprov Bali pada hari Minggu 14 Agustus 2011, Gubernur Bali Made Mangku Pastika dijadwalkan menganugrahkan penghargaan tertinggi dalam bidang seni kepada 18 seniman dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali.
Ke-18 penerima Dharma Kusuma itu sebelumnya telah dinyatakan lolos seleksi oleh satu tim dari instansi terkait, serta mempunyai pengabdian dan prestasi yang sangat menonjol dalam bidang penggalian, pengembangan dan pelestarian nilai-nilai budaya Bali.
Mereka antara lain Ida Rsi Agung Oka Dwija (61) seniman tabuh dan tari dari Banjar Batannyuh Kecamatan Marga, kabupaten Tabanan, I Nyoman Astita, MA (59) seniman kerawitan dari kota Denpasar, I Made Ruda, seniman kerawitan dari banjar Tanjung Bungkak, kota Denpasar dan Ni Luh Menek (72) seniman tari dari Banjar Siladarma, Tejakula, Kabupaten Buleleng.
I Nyoman Suweca (75) seniman drama gong dari Kelurahan Banyuning, Kabupaten Buleleng, Tjokorda Raka Kerthiyasa (57) budayawan dari Puti Ubud, Kabupaten Gianyar, Tjokorde Raka Tisnu SST, MSi (62) dari Banjar Sengguan, Kabupaten Gianyar, I Wayan Nartha (69) seniman dalang dari Banjar Babakan, Sukawati, Kabupaten gianyar dan I Made Djimat (69) seniman tari dari Banjar Pekandelan, Sukawati, Kabupaten gianyar.
Pemprov Bali juga memberikan penghargaan kepada seniman yang dinilai mengabdikan dirinya untuk pengembangan seni dan budaya bertepatan dengan pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar secara berkesinambungan setiap tahun.
Selama 33 kali pelaksanaan PKB, tahun 1978-2011 telah memberikan penghargaan kepada 363 seniman yang mampu menghasilkan karya-karya monomental.
Lewat berbagai upaya pembinaan, dorongan dan motivasi diharapkan para seniman tetap mengembangkan kreativitas sesuai keahlian dalam bidang tabuh, tari, lukis dan seni sastra.
Dengan demikian seni budaya Bali diharapkan tetap kokoh dan eksis di tengah perkembangan budaya global, demikian Ketut Suastika.(**)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.