Ketua Komisi B, Nyoman S Kusumayasa, mengatakan ketertarikan petani yang sangat minim untuk produksi pertanian palawija karena dinas terkait tidak memberikan pemahaman yang utuh.
"Harusnya dinas terkait memberikan pemahaman yang utuh kepada petani seputar palawija, mulai dari cara tanam hingga potensi ekonominya," kata Kusumayasa.
Ia bisa berkomentar seperti itu karena dari program yang dia lihat di Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Kelautan, masalah pertanian palawija tidak mendapatkan perhatian serius.
Menurutnya, petani malas menanam palawija karena tidak ada proteksi dari pemerintah khususnya soal harga saat panen raya.
"Saat panen raya harga palawija bisa anjlok hingga membuat petani kerap membuang-buang hasil panennya. Hal inilah yang harus diproteksi pemerintah," ujar Kusumayasa.
Untuk menyusun program penanaman palawija, menurut Kusumayasa, dinas terkaih jauh-jauh sudah bisa menyiapkan rancangan kapan palawija harus mulai ditanam agar saat panen mendapatkan harga yang bagus.
"Contohnya adalah saat lebaran kebutuhan palawija seperti kacang-kacangan pasti melonjak, jadi beberapa bulan sebelum lebaran mestinya petani bisa menanam palawija," kata Kusumayasa.
Kusumayasa mengakui, untuk membiasakan menanam palawija di kalangan petani di Kabupaten Jembrana memang tidak gampang dilakukan.
Karena itu, dia menyarankan agar dinas terkait membuka demplot dan bekerja sama dengan subak, karena sangat sulit untuk melakukan penyadaran kolektif atau serentak petani menanam palawija.
Menurutnya, kecenderungan petani Jembrana, mereka baru akan ikut menanam jika melihat hasil tanaman orang lain bagus.
"Kalau hasil demplotnya bagus termasuk pemasukan ekonominya, saya yakin para petani akan menirunya," ujar Kusumayasa.
Sebelumnya, nyaris seluruh kebutuhan hasil pertanian palawija yang dikonsumsi masyarakat Kabupaten Jembrana merupakan pasokan dari Pulau Jawa.
Padahal, para pedagang berharap ada palawija lokal yang otomatis akan menekan harga karena ongkos transportasinya yang lebih murah.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.