Kamis, 19 Oktober 2017

Pariwisata Bali Tak Terpengaruh Status Gunung Agung

| 624 Views
id pariwisata Bali, erupsi gunung agung, Status Gunung Agung, pvmbg,
Pariwisata Bali Tak Terpengaruh Status Gunung Agung
Ilustrasi - Sejumlah Umat Hindu menggelar upacara di Pura Besakih yaitu Pura yang berada di kaki Gunung Agung, Karangasem, Bali, Selasa (19/9). ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/wdy/2017. (edm)
Perpaduan sawah yang berundak-undak, lembah, pesisir pantai dan gunung merupakan panorama alam yang menambah daya tarik Bali, di samping keunikan seni budaya yang diwarisi masyarakat secara turun-temurun.

Bali sebuah pulau kecil dengan luas 5.632,86 kilometer persegi atau 0,29 persen dari luas Nusantara, memiliki kelengkapan unsur, mulai dari keberadaan empat danau, ratusan sungai, kawasan hutan yang menghijau dan lestari serta tiga buah gunung.

Salah satu dari tiga gunung di Pulau Dewata yakni Gunung Agung memiliki ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut yang dalam status Awas (level IV) sejak 22 September lalu akibat aktivitas vulkanik yang semakin meningkat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).

Dengan peningkatan status itu maka wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung diperluas menjadi sembilan kilometer, serta ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan-baratdaya.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika ketika mengadakan pertemuan dengan kalangan pariwisata setempat mengimbau wisatawan tidak ragu untuk berwisata ke Pulau Dewata, meskipun status Gunung Agung berada pada level Awas, karena kondisi daerahnya sampai saat ini tetap kondusif dan aman.

Jikapun terjadi hal yang paling buruk yakni gunung tertinggi di Bali itu mengalami erupsi, hanya akan berdampak langsung pada 28 desa atau desa dengan radius 12 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung yang kini sudah mengungsi ke tempat yang aman.

Destinasi pariwisata seperti Nusa Dua, Kuta, Sanur, Perkampungan Seniman Ubud serta destinasi wisata lainnya yang berjarak sekitar 85 km dari Gunung Agung diperkirakan tetap dalam kondisi aman.

Karangasem, salah satu dari sembilan kabupaten/kota di Bali memiliki 78 desa, hanya 28 desa yang terdampak langsung, sisanya 50 desa diperkirakan aman. Begitu pula dengan tempat-tempat lainnya di Bali diperkirakan juga aman. Oleh sebab itu, ia mengimbau jangan ragu untuk berwisata ke Pulau Dewata.

Demikian pula masyarakat setempat menurut mantan Kapolda Bali itu, jangan terlalu khawatir yang berlebihan akan kondisi Gunung Agung. Jika dibandingkan dengan tahun 1963, saat Gunung Agung terakhir meletus, kondisi saat ini tentu berbeda.

Hal itu berkat mitigasi bencana sudah lebih bagus, peranan pemerintah lebih efektif tidak seperti dulu, di samping teknologi informasi makin canggih sehingga akan mampu menekan sekecil mungkin jika terjadi hal yang terburuk.

Oleh sebab itu daerah tujuan wisata Bali selalu dalam kondisi baik tidak ada yang perlu dikawatirkan, kalaupun Gunung Agung meletus semua sudah siap diantisipasi.

BPW Sosialisasi

Gubernur Made Mangku Pastika juga mengharapkan kepada pelaku pariwisata untuk terus melakukan sosialisasi melalui biro perjalanan wisata (BPW) maupun Konsulat Jenderal yang ada di Bali terkait aktivitas gunungapi dan kondisi Bali sekarang.

Pihaknya juga berencana bertemu dengan para konsul yang ada di Bali untuk menyampaikan kondisi Bali sekarang sehingga tidak ada kesimpangsiuran informasi.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso dalam kesempatan terpisah menegaskan, penerbangan dari dan menuju Bali hingga saat ini belum terdampak kondisi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem yang ditetapkan berstatus awas karena belum adanya debu vulkanik.

Selama status awas hampir dua seminggu ini tidak ada rasa khawatir terhadap penerbangan selama tidak ada debu vulkanik. Demikian juga ketika tingkat potensi debu vulkanik Gunung Agung dinaikkan menjadi "orange" oleh Vulcano Observatory Notice to Aviation (VONA) juga belum memiliki pengaruh bagi penerbangan di Bali yang masih normal.

Meskipun demikian selama status awas tersebut, pihaknya telah melakukan publikasi kepada para pilot dan pelaku penerbangan untuk ikut melaporkan jika melihat adanya debu vulkanik.

Apabila menemukan pergerakan debu vulkanik, maka pilot dapat memberikan laporan kepada petugas di darat agar dapat diantisipasi. Sampai saat ini tidak ada keluhan dan laporan pilot. Citra satelit juga belum ada laporan debu vulkanik.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang sempat menyerahkan bantuan kepada para pengungsi Gunung Agung juga telah mengambil langkah antisipasi antara lain menggandeng Direktorat Jenderal Perhubungan Darat untuk menyediakan sekitar 300 bus untuk mengangkut calon penumpang yang ingin memilih jalur darat apabila gunungapi itu erupsi.

Selain itu menyiapkan sepuluh bandara terdekat untuk mengantisipasi pengalihan penerbangan yakni untuk radius terdekat dari Bali yakni Bandara Lombok, Bandara Blimbingsari Banyuwangi dan Bandara Juanda Surabaya.

Selain itu, radius kedua yakni Bandara Adi Sumarmo Solo, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Pattimura Ambon, Bandara Sepinggan Balikpapan, Bandara El Tari Kupang, Sam Ratulangi Manado dan Soekarno-Hatta Jakarta.

Penundaan Wisman

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati memprediksi dalam periode Oktober hingga November 2017, sekitar 70 ribu wisatawan mancanegara menunda liburannya ke Pulau Dewata terkait status Awas dari Gunung Agung.

Pihaknya telah mendata kunjungan turis yang rencananya berlibur ke Bali maupun mengikuti pertemuan dalam dua bulan itu menurun sekitar 20 persen atau 70.000 orang.

Tokoh Puri Perkampungan seniman Ubud itu mengharapkan jika aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Agung mulai melemah agar diimbangi dengan menurunkan status awas gunung tersebut.

Karena penurunan status Awas itu bukan menjadi kewenangan dari Gubernur Bali. Oleh sebab itu komponen pariwisata akan berusaha menjelaskan kepada wisatawan bahwa sebenarnya status Awas itu diperuntukkan bagi wilayah yang berada dalam radius hingga 12 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Demikian pula dengan kekhawatiran terhadap akses bandara jika benar terjadi erupsi, penutupan akses akan sangat tergantung dari arah angin.

Pria yang akrab disapa Cok Ace mencontohkan seperti halnya dampak letusan Gunung Raung di Jawa Timur, dan Gunung Rinjani di Nnusa Tenggara Barat Meskipun gunung tidak berada di Bali telah menyebabkan buka tutup penerbangan di Bandara Ngurah Rai, Bali.

Pada bulan Oktober setiap tahunnya juga belum termasuk "peak season" atau musim puncak kunjungan ke Bali. Saat ini untuk tingkat hunian hotel di kawasan Nusa Dua, Kabupaten Badung, rata-rata 65 persen. Sedangkan di luar kawasan Nusa Dua, tingkat huniannya masih di bawah 60 persen.

Wisman yang berlibur ke Bali paling banyak dari China (26,21 persen), kemudian Australia 18,57 persen), India 4,38 persen), Jepang 4,33 persen), Inggris 4,15 persen, Amerika Serikat 3,37 persen, Korea Selatan 3,13 persen, Prancis 3,10 persen dan berbagai negara lainnya 26 persen. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga