BPPI-INTO Mengakui Kearifan Budaya Kabupaten Gianyar

BPPI-INTO Mengakui Kearifan Budaya Kabupaten Gianyar

Sejumlah seniman menampilkan tari klasik Bali saat pembukaan International Conference of National Trusts (ICNT) 2017 di Pantai Masceti, Gianyar, Bali. (Antara Foto/Wira Suryantala/wdy/2017)

Gianyar (Antara Bali) - Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dan International National Trusts Organisation (INTO) mengakui kearifan tradisi dan budaya lokal di Kabupaten Gianyar, Bali, yang tetap lestari dan eksotis.

"Kabupaten Gianyar dipilih menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Organisasi Pelestarian se-Dunia atau International Conference of National Trusts (ICNT) ke-17, karena mampu menjaga kearifan loka berupa subak, tarian Bali dan keris yang dimilikinya," kata Ketua Dewan Pengawas BPPI, Hasyim Djojohadikusumo di Gianyar, Senin.

Kegiatan ICNT yang berlangsung selama lima hari (11-15 September 2017), diakuinya, sebagai upaya agar semua orang dapat belajar dari tokoh internasional bagaimana cara merawat, menjaga dan melestarikan warisan budaya yang dimiliki daerah di indonesia maupun pusaka Indonesia.

Warisan pusaka ini mencakup kekayaan alam yang dimiliki daerah ini juga mencakup tanah, gunung dan laut maupun sungai atau pun dampak dari perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Kegiatan Konferensi Internasional Organisasi Pelestarian se-Dunia (ICNT) ke-17 ini, kata dia, mengangkat tema menjaga budaya dan kelestarian lingkungan hidup. "Bali memmiliki peran khusus, karena masyarakat Pulau Dewata sangat melekat dengan budaya, lingkungan hidup dan sejarah," katanya.

Djojohadikusumo mengatakan, baru tiga kota/kabupaten di Indonesia yang tercatat sebagai kota pusaka dunia yang telah diakui dari 298 kota diberbagai negara di dunia. "Hanya tiga kota/kabupaten yang diakui sebagai kota pusaka yakni Surakarta, Denpasar dan Gianyar," ujarnya.

Pihaknya mengharapkan, Kabupaten Gianyar dapat menjadi contoh dan teladan untuk 500 kabupaten/kota yang ada diseluruh Tanah Air yang mengikuti pelestarian warisan pusaka ini. "Saya berharap bagaimana daerah dapat menjaga warisan nenek moyang yang telah dimiliki," ujarnya.

Ia mengakui, ke depan yang menjadi tantangan besar adalah bagaimana 114 kabupaten/kota yang tersebar diseluruh Indonesua dapat menjaga warisan pusaka ini, karena hanya tiga daerah saja yang masuk dalam warisan pusaka dunia.

Sementara itu, Catrini Kubontubuh selaku Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI/Indonesian Heritage Trust) mengharapkan, kabupaten/kota yang sudah mendapat pengakuan menjaga warisan pusaka yang diakui dunia ini mampu mempertahankannya.

"Indonesia khususnya Bali yang diwakili Kabupaten Gianyar yang mendapat kehormatan menjadi tuan rumah penyelenggara ICNT 2017, diharapkan terus menjaga kearifan tradisi dan budaya lokal dari pusaka budaya Indonesia untuk menjadi bagian dari solusi dunia untuk kelestarian lingkungan yang berkelanjutan," ujar Catrini Kubontubuh.

Sebanyak 200 orang dari 31 negara yang hadir dalam acara "International Conference of National Trusts" (ICNT) ini merupakan anggota organisasi kota pusaka dunia (INTO) yang mendukung upaya pelestarian warisan budaya dan pusaka ini.

Ia mengatakan, Kabupaten Gianyar menjadi kota pusaka dunia karena telah diakui UNESCO memiliki sebagai "world heritage" seperti subak, tari Bali, keris yang menjadi persyaratan ini. "Selain itu yang dinilai bagaimana kinerja pemerintah daerah maupun komunitas yang menjadi perhatian," katanya. (WDY)