Denpasar (ANTARA) - Warga Kelurahan Pemecutan, Denpasar Barat, Kota Denpasar, Bali, menggelar Pemecutan Festival berupa lomba budaya untuk memeriahkan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI.
Ketua Panitia Pemecutan Festival I Gede Pasek Subrata di Denpasar, Sabtu, mengatakan pemilihan kegiatan-kegiatan budaya bertujuan untuk memeriahkan hari kemerdekaan tanpa melupakan kearifan lokal.
“Untuk 17-an kali ini kami pilih lomba budaya untuk mengangkat kearifan lokal kita, sesuai juga dengan Pemkot Denpasar yang terus mendorong nilai seni di setiap kegiatan,” kata dia.
Dalam upaya mengaitkan semangat kemerdekaan dengan kegiatan seni dan budaya, kelurahan dengan 16 banjar adat itu memilih lima perlombaan yang mencirikan semangat, kreatifitas, dan kekompakan seperti lomba baleganjur pemuda, mekendang tunggal anak-anak, tari rejang sari ibu PKK, lomba busana adat ke pura anak-anak, dan lomba tari condong.
“Kami awalnya polling untuk lomba apa yang digemari masyarakat, dan ini terpilih, ini kami angkat juga karena menunjukkan semangat kemerdekaan, kami ingin melalui festival ini kita wujudkan kesejahteraan masyarakat Pemecutan melalui budaya dan seni,” ujar Gede Pasek.
Perayaan HUT Ke-80 RI yang digelar 15-17 Agustus 2025 ini diikuti oleh 26 peserta mekendang tunggal, 25 kelompok tari condong, 12 pasang peserta busana adat ke pura, enam kelompok tari rejang sari, dan tiga kelompok baleganjur.
Ketua penyelenggara Pemecutan Festival itu mendata peserta dalam lomba budaya perdana yang digelar kelurahan tersebut didominasi anak-anak berusia 7-12 tahun.
Antusias peserta mendaftar dalam jarak waktu hanya satu bulan ini menurutnya sudah menunjukkan bahwa semangat berkesenian di lingkungan tersebut masih terjaga.
“Saya lihat saat ini positif semua responsnya dalam menyambut kegiatan ini apalagi ini pertama kali, kalau sebelumnya perayaan 17-an hanya lomba-lomba biasa di lingkup banjar, sekarang kita gandeng semua jadi satu di kelurahan,” ujar Gede Pasek.
Selain perlombaan, kelurahan turut menggandeng siswa PAUD, TK, SD, dan SMP di lingkungan setempat untuk tampil mengisi acara dengan atraksi budaya dan mengundang sejumlah musisi lokal Bali sebagai pemantik kehadiran warga.
Dengan bantuan anggaran sekitar Rp200 juta untuk program di kelurahan dari Pemkot Denpasar, Gede Pasek meyakini penyelenggaraan kegiatan menyambut kemerdekaan ini mampu membawa dampak positif untuk masa depan regenerasi seniman.
“Semoga setelah ini setiap tahun diadakan, karena semua pesertanya bukan profesional, kami gali bibit muda yang nantinya bisa melanjutkan estafet kebudayaan,” kata dia.
