Karangasem (Antara Bali) - Memasuki musim hujan warga Dusun Jumenang, Desa Bukit, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Bali, beramai-ramai menanam rumput gajah untuk persediaan pakan ternak.

"Sekarang sudah memasuki musim hujan, tanah di Jumenang mulai bisa ditanami. Warga Jumenang pilih bertanam rumput gajah," kata Jro Mangku Wayan Catra, salah seorang warga Jumenang, Minggu.

Dia melanjutkan, penduduk Jumenang terdiri atas 140 kepala keluarga (KK) dan hampir 100 persen bertanam rumput gajah begitu musim penghujan datang.

Luas keseluruhan lahan di Jumemang mencapai 130 hektare, dan sebagian besar terdiri atas tebing-tebing terjal dan tanah kering. Jika musim kemarau, cangkul tidak akan bisa menembus tanah Jumemang, sehingga warga tidak bisa memanfaatkan lahan mereka.

Begitu musim hujan, baru lahan di Jumenang bisa dipergunakan untuk bertanam, khususnya rumput gajah, yang dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi.

Cara bertanam rumput gajah tergolong praktis, karena tinggal memotong batangnya, kemudian ditancapkan ke tanah. Kalau musim hujan, usia rumput gajah 1,5-2 bulan, bisa langsung dipanen. Hasil panen rumput gajah kemudian digunakan sebagai pakan ternak.

"Pemilik ternak ini sulit sekali mendapatkan pakan kalau musim kemarau, sampai-sampai harus mencari batang padi di persawahan wilayah Kota Amlapura, saking sulitnya mencari rumput di Jumemang. Rata-rata setiap rumah di dusun ini memiliki 2-3 ekor sapi. Tak bisa memelihara banyak karena terbatasnya rumput," ujar Jro Mangku Wayan.

Dia melanjutkan, pilihan bertanam tumbuhan lain kalau musim penghujan adalah jenis buah-buahan seperti durian, cengkeh atau manggis. Pernah diuji coba menanam jambu mete, ternyata tidak bisa berbuah dikarenakan udara di dusun ini tergolong dingin.

Dikatakan dia, kehidupan penduduk di Jumenang selama ini didera kesulitan air di luar musim penghujan. Satu-satunya harapan penduduk adalah air rembesan di gunung, yang kemudian dibagi-bagi melalui pipa ke rumah-rumah warga.

"Pernah dicoba menggali sumur, ternyata di bawah tanah ada batu-batu padas yang tidak bisa ditembus. Untung pemerintah sudah membuatkan membuat embung belakangan, sehingga kebutuhan air warga dapat dipenuhi. Sekarang warga juga membuat bak untuk menampung air di musim hujan," ujar dia. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Tri Vivi Suryani

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016